Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

NTB

NTB Diserang Antraks
Senin, 25 Oktober 2004 | 13:38 WIB

TEMPO Interaktif, Mataram: Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat akan terus menggencarkan program vaksin antraks untuk ribuan ekor hewan ternak, sapi, kerbau, kuda dan kambing. Hal itu dilakukan setelah ditemukan seekor sapi yang positif terjangkit bacillus anthracis (baksil antraks) awal Oktober lalu di Kecamatan Rasanae Timur Kota Bima.

Program vaksin antraks ini sebenarnnya telah
dilaksanakan selama dua tahun terakhir, terutama di beberapa kabupaten/kota di NTB yang telah dikategorikan sebagai kawasan endemis antraks, seperti di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima dan Kecamatan RasanaE Timur, Kota Bima, juga di Kecamatan Lape Lopok Kabupaten Sumbawa. Kawasan rawan antraks di Pulau Sumbawa, seperti di Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah, terutama di daerah selatan dan Kabupaten Lombok Barat. "Daerah tersebut masuk kategori endemis antraks. Sedangkan di Lombok, kasusnya pernah ditemukan sekitar 18 tahun lalu. Tapi ingat spora ini bisa bertahan hidup hingga 20 tahun, " tegas Kepala Dinas Peternakan NTB, Lalu Widjaje di
kantornya di Mataram, Senin (25/10) siang.

Untuk menekan angka antraks di NTB, pada 2003 Dinas
Kesehatan Provinsi NTB telah mengeluarkan 615 botol vaksin antraks ukuran 125 cc, untuk 74.825 ekor sapi, kerbau dan kuda. Kemudian pada 2004 telah dibagikan gratis 43 botol vaksin antraks ukuran 125 cc untuk disuntikkan ke 5.375 sapi, kerbau dan kuda. "Khusus untuk kambing, bisa dua kali lipat jumlahnya. Karena, ukuran satu cc vaksin antraks bisa untuk satu sapi dan dua kambing," tegas drh Wahyu Setyawan Yuwana, Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Sub Dinas Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan NTB.

Adapun kasus terbesar antraks terjadi pada Januari 2003.
Tercatat sembilan orang warga Dusun Lareu, Desa
Dori Dungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima,
meninggal akibat mengkonsumsi daging kambing yang
terjangkit antraks.

Banyaknya warga meninggal di Donggo, akibat ketidaktahuan masyarakat memberlakukan binatang berpenyakit itu. Puluhan kambing di Desa Dori Dungga yang mati mendadak, oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, dikuburkan.
Tapi, oleh warga sekitar, bangkai kambing itu digali
dan kemudian disembelih untuk dimasak dan dimakan.

Sujatmiko - Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kasus Buyat, Nabiel Makarim Diperiksa
Menteri Minta Babakan Madang Diisolir
Korban Suspect Anthraks Bertambah Dua Orang
Masyarakat Diminta Tidak Potong Ternak Sakit
Menteri Kesehatan Diminta Jelaskan Mekanisme Penggratisan
Menkes: Antraks Adalah Endemi Selalu Terjadi
Enam Orang Meninggal Diduga Kena Antraks
CSIRO : Tidak Ada Pencemaran di Buyat
Menteri Pertanian Fokus Penyediaan Pangan di Hari Raya
Menteri Pertanian Tolak Volvo
> selengkapnya...


Referensi

Penjelasan Menteri Kesehatan Tentang Praktek Kedokteran (Termasuk Malapraktek)
Baku Tuding Malapraktek
Trend CDR dan SR TB Paru (1997-2003)
PP RI No. 14 Tahun 2004 Tentang Syariat dan Tata Cara Pengalihan Perlindungan Varietas Tanaman dan Penggunaan Varietas Yang Di Lindungi Oleh Pemerintah
PP RI No. 13 Tahun 2004 Tentang Penanaman, Pendapatan dan Penggunaan Varietas Asal Untuk Pembuatan Varietas Turunan Esensial
UU RI No.9 Thn.1960 Tentang Pokok - Pokok Kesehatan
Sebaran Demam Berdarah Dengue 1968 - 2003
Rabies di Indonesia 1998 - 2003
Cakupan Pengobatan Massal
> selengkapnya...

Website

Departemen Kesehatan


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< October,2004>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data