|
Kupang
Mapolres Manggarai Diserang, Empat Tewas Tertembak
10 Maret 2004
TEMPO Interaktif, Kupang: Markas Polisi Resort Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, diserang sekitar 400 massa dari Desa Rende Nao, Kecamatan Pocoranaka, Kabupaten Manggarai, Rabu (11/3), sekitar pukul 09.30 Wita. Empat warga tewas tertembak dalam penyerangan itu, 27 lainnya luka-luka.
Menurut Kapolda Nusa Tenggara Timur, Brigjen Pol. Drs. Edward Aritonang, massa datang dan menyerang secara brutal meminta agar tujuh temannya yang ditangkap segera dibebaskan. "Salah seorang bintara siswa yang sementara magang di Polres Manggarai dibacok oleh massa yang sudah beringas. Bintara ini belum kita identifikasi," kata Aritonang kepada wartawan, sesaat sebelum berangkat ke Kabupaten Manggarai.
Aritonang mengatakan, kasus ini bermula Sabtu (6/3) lalu. Saat itu Muspida Manggarai melakukan rapat menanggapi adanya musyawarah dari kelompok petani yang tetap mengggarap di lahan yang berada dalam kawasan konservasi sumber daya alam (KSDA). Hasil rapat itu memutuskan untuk meninjau kerusakan akibat kebijakan Pemerintah Kabupaten Manggarai yang melakukan pembabatan hutan kopi milik warga di sekitar kawasan konservasi Kecamatan Pocoranaka.
Saat peninjauan, ternyata ada warga yang sementara melakukan penggarapan di hutan konservasi. Polisi kehutanan dan polisi pamomg praja pun menahan tujuh warga penggarap. Setelah itu, tujuh orang itu diserahkan ke Polres untuk diproses hukum. Saat aparat penyidik melakukan pemeriksaan, tiba-tiba sekitar 400 massa menggunakan tiga truk mendatangi Mapolres untuk berdialog. Namun, kata Aritonang, begitu massa turun dari truk, mereka langsung menghancurkan dan memporak-porandakan pos penjagaan dengan parang dan kayu.
Jumlah massa yang tidak seimbang tidak mampu dihalau anggota polisi yang bertugas. Menurut Aritonang, Kapolres Manggarai, AKBP Drs. Bony Tompoi sudah memerintahkan agar massa menghentikan penyerangan, tapi tidak dihiraukan. Bahkan massa mengejar sampai ke asrama yang berada di belakang Mapolres. "Anggota saya sudah berusaha mempertahankan markas, maka terjadilah kontak oleh anggota yang menggunakan peralatan yang ada pada mereka. Empat orang tewas tertembak. Tapi akan kita teliti apakah penembakan sudah berdasarkan prosedur atau tidak," katanya. Menurut Aritonang, untuk membantu memulihkan keamanan, 1 SST Brimoda di Polres Ende, 1 SST Brimoda dari Polres Manggarai dan 1 SST Dalmas dari Polres Ngada telah diterjunkan ke Manggarai.
Sementara itu, staf Badan Informasi dan Komunikasi Manggarai, Andereas Ndeno, yang dihubungi melalui telepon mengatakan, situasi Kota Ruteng, Ibukota Manggarai, masih mencekam. Sebagian besar takut keluar dan memilih untuk tetap bertahan di rumah masing-masing.
Insiden penembakan ini bermula dari adanya pembabatan hutan kopi milik warga Kecamatan Pocoranakan oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai. Warga yang merasa dirugikan sudah berulang kali melakukan protes namun tidak dihiraukan pemerintah. Sejak 2003 lalu, total hutan kopi yang sudah dibabat kurang lebih 15.000 hektare. Pemerintah setempat selalu membela diri dengan mengatakan bahwa kebun kopi warga sudah masuk ke areal hutan konservasi sehingga harus dibersihkan.
Jem's de Fortuna - Tempo News Room
|