|
Nusa Tenggara Barat
Tawuran Warga di Mataram Kembali Memanas
29 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Mataram: Perkelahian antara warga kampung Karang Genteng dengan kampung Peresak, di Kelurahan Pagutan, Mataram, Nusa Tenggara Barat kian memanas. Pasalnya, Senin (29/12) pagi, dua orang terluka akibat terkena tembakan senjata api rakitan dan panah.
Pemicu perkelahian antar kampung itu sebenarnya sederhana, yaitu salah paham. Seorang pemuda asal Karang Genteng yang naik sepeda motor di kampung Peresak, ditegur karena mengendarai sepeda motor kecepatan tinggi, pertengahan Ramadhan lalu. Karena merasa tidak terima, pemuda itu datang kembali dengan sejumlah temannya.
Terjadilah bentrok. Iksan, 53 tahun, terkena luka tembak di tangan kanan dan Burli, 47 tahun terkena panah di punggungnya. Keduanya warga kampung Peresak, Pagutan.
Kini keduanya dirawat di Rumah Sakit Umum Mataram, hari ini, sekitar pukul 07.00 WITA, atau setengah jam setelah
kejadian.
Akibat kejadian itu pula, aktivitas di Pasar Pagutan, yang berlokasi di antara kedua kampung yang berseteru itu, jadi sepi. Bahkan murid-murid di dua Sekolah Dasar Negeri, juga banyak yang tak masuk. "Ya karena ada beberapa guru asal Karang Genteng dan kampung Peresak takut keluar rumah," kata Ikin, warga Peresak kepada Tempo News Room di kampung Peresak, Senin (29/12) pagi.
Untuk mengantisipasi kemungkinan perkelahian kian meluas, Kepolisian Resort Lombok Barat dibantu Kepolisian Daerah NTB, telah menurunkan
sedikitnya 500 personel untuk menjaga perbatasan kedua kampung yang dibelah sungai selebar lima meter ini.
Kepala Kepolisian Daerah NTB Sutomo Tjokroatmodjo dan Walikota Mataram Mohammad Ruslan telah turun ke tempat kejadian perkara (TKP)ikut meredam perkelahian.
Kasus perkelahian antarkampung ini, sebenarnya telah
berlangsung lebih dari 10 hari. Kedua kampung saling melempar batu dan sesekali melepaskan panah dan menembak dengan senjata rakitan. Bahkan pada Sabtu (27/12) sore, sempat adu fisik. Tapi sebelum perkelahian meluas, aparat kepolisian langsung memblokir kawasan perbatasan kedua kampung. Bahkan polisi sempat mengeluarkan tembakan peringatan tiga kali. Warga kampung yang berkelahi pun mulai bubar.
Perkelahian kemudian dilanjutkan pada Senin (29/12) pagi. Tak kurang dari 300 warga kedua kampung berkumpul di perbatasan, lengkap dengan tombak, pedang, panah dan senjata api rakitan. Di antara yang menentang senjata, terlihat anak-anak usia 10 hingga 15 tahun. Ibu-ibu rumah tangga pun tampak ikut mengumpulkan batu.
Ketika kondisi memanas, Iksan yang mencoba melerai justru tertembak dari arah kampung Karang Genteng. Melihat itu Burli, tetangganya langsung menolong. Tapi naas, sebuah panah tiba-tiba bersarang di punggungnya. Dalam kondisi berlumuran darah, warga langsung menggotong kedua korban ke RSU Mataram.
Menurut Ikin, warga kampung Peresak, kedua warga telah
berkumpul di depan sungai, sejak usai subuh. "Kita
kemudian telah saling lempar batu," katanya.
Perkelahian makin meluas. Kampung tetangga, seperti Jempong, ikut bergabung membantu warga kampung Peresak. Seditkitnya 50 warga Jempong bergabung lengkap dengan pedang dan tombak.
Polisi yang telah berjaga di pos polisi, sekitar 200
meter dari TKP, langsung memblokir pintu-pintu masuk
dari dan ke kampung yang berkelahi agar warga dari luar
tidak bisa masuk.
Menurut Kepala Kepolisian Resort Lombok Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Benny Mokalu, pihak kepolisian akan terus menambah anggota untuk memblokir
pintu-pintu masuk, baik yang ada di kampung Karang
Genteng dan kampung Peresak. "Kita menjaga agar orang luar tidak bisa masuk," tegas Kapolres, yang berada di TKP, sejak Senin, dini hari.
Dalam enam tahun belakangan, perkelahian antarkampung di Kelurahan Pagutan, telah 10 kali lebih terjadi. Kasus perkelahian terbesar terjadi pada Oktober 1998 lalu, antara kampung Karang Genteng melawan kampung Petemon.
Tercatat ada sembilan orang tewas, sekitar 50 rumah
rusak dan terbakar, dan satu ekor kuda tewas dibunuh.
Kasus perkelahian antarkampung di Kelurahan Pagutan,
juga menjadi catatan tersendiri bagi Pemerintah
Provinsi NTB, dan Pemerintah Kota Mataram. Pihak
pemerintah juga telah menyalurkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk pembinaan kedua kampung.
Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah setempat untuk membatasi kemungkinan tawuran, seperti membangun tembok pembatas antara kampung Petemon dengan kampung Karang Genteng. Bahkan, Gubernur NTB, ketika masih dijabat Harun al Rasyid, telah mengumpulkan tokoh-tokoh agama dari kampung Karang Genteng, Petemon, Peresak, Bajur untuk membuat surat pernyataan bersama tidak akan berkelahi.
Sujatmiko - Tempo News Room
|