|
Nusa Tenggara Barat
3.000 Nelayan Lombok Tidak Melaut
26 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Mataram:Sekitar 3.000 nelayan tradisional di Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram, selama dua minggu ini tidak turun melaut. Mereka takut melaut karena belakangan ini arus laut cukup deras.
Dalam dua minggu terakhir ini, kondisi air laut pasang dengan tinggi gelombang antara 1,5 hingga 2,5 meter. Kekhawatiran para nelayan, yaitu tiupan angin keras yang membuat air laut menjadi deras. Dengan perahu tradisional berukuran rata-rata panjang 5-7 meter dan lebar satu meter, arus tersebut sangat berbahaya bagi keseimbangan perahu motor kecil.
Ribuan nelayan tersebut tersebar mulai dari pesisir Lembar hingga Senggigi atau sekitar 50 kilometer. Para nelayan itu mengelompok, seperti di Tanjung Karang, Pondok Perasi, Mapak, dan Kampung Melayu Bangsal di Kecamatan Ampenan, Mataram.
Sementara yang di Lombok Barat, seperti di pesisir Lembar, Cemara, Batu Layar, Batu Bolong, hingga ke Senggigi. Lokasi tangkapan para nelayan tersebut berada di kawasan Kecamatan Sekotong, ujung barat laut Pulau Lombok hingga di perairan laut selatan yang ombaknya cukup keras.
Untuk menuju lokasi tangkapan, seperti di Sengkongo, Sekotong, nelayan rata-rata membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam. Praktis di Sengkongo, hanya kapal kapal besar saja yang berani melaut. Kapal tersebut berasal dari luar Lombok, seperti dari Banyuwangi Jawa Timur, Bali dan Makasar.
Menurut Rasnah, nelayan asal Pondok Perasi, Ampenan, kelompok nelayannya sudah tidak turun melaut selama dua minggu lebih sejak ombak laut besar. Praktis selama itu pula dirinya bersama dengan kawan-kawannya menganggur. Kalaupun turun melaut, lokasinya hanya di seputar perairan di Pondok Perasi.
Menurutnya, dalam hitungan cuaca, pada bulan Desember-Januari air laut memang sering deras. "Ya kita hanya di rumah saja, paling-paling membetulkan jaring," tegas Rasnah, ketika ditemui di Pondok Perasi, Ampenan, Jumat (26/12).
Selama ini, para nelayan tradisional di Lombok, melaut dengan cara berkelompok. Rata-rata untuk ukuran perahu motor, ada 3-4 orang. Perahu itu sebagian milik sendiri sebagian disewa. Hasilnya mereka bagi, setelah dipotong untuk keperluan membeli bensin, rata-rata 50 liter, minyak tanah, dan bekal makan selama 1-2 hari di laut.
Akibat nelayan tidak turun melaut, kini harga ikan di Mataram melonjak. Untuk ikan kembung yang biasanya seharga Rp 1.000 per ekor kini meningkat menjadi Rp 2.000 per ekor. Begitu juga dengan jenis tongkol ukuran kecil, yang biasanya seharga Rp 1.500 per ekor, kini naik menjadi Rp 3.000. "Harganya naik mas," tegas Suryawanun, seorang penjual ikan di pasar Ampenan, pada Jumat, pagi.
Akibat arus laut pula, pada tahun 1999 lalu lima orang nelayan asal Kampung Melayu Bangsal digulung ombak saat mereka melaut di Sengkongo, Sekotong. Bahkan salah satu dari mayat mereka sampai terseret ombak hingga ditemukan di perairan laut Cilacap, Jawa Tengah.
Data di Badan Meteorologi dan Geofisika, Selaparang Mataram menyebutkan, pada bulan Desember-Januari, arus angin mengalami peningkatan. Kecepatan angin sekitar 25 kilometer per jam, dan kemungkinan akan terus naik. "Puncaknya, hujan dan angin keras akan terjadi pada Januari mendatang," tegas Kepala BMG Selaparang, Ir Sutrisno, beberapa waktu lalu.
Sujatmiko - Tempo News Room
|