TEMPO Interaktif, Mataram:Korban tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Wimala Dharma yang selamat disambut jeritan histeris. Mereka disambut keluarga korban yang telah menunggu berjam-jam di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Minggu (7/9) siang.
Korban yang telah dievakuasi diangkut dengan kapal penumpang jalur penyeberangan Lembar, Lombok Barat, NTB-Padangbai, Karang Asem, Bali. Tercatat sudah ada 52 orang, dari sekitar 182 orang total penumpangnya. Sedangkan lima korban tewas, semuanya berdomisili di Lombok, masih berada di Padangbai. Petugas SAR Nusa Tenggara Barat dan petugas kesehatan, memeriksa kesehatan mereka satu persatu di ruang khusus.
Begitu melihat yang ditunggu turun dari kapal dalam keadaan selamat, keluarganya langsung datang memeluk. Mereka bertangis-tangisan. Mustajib, 21 tahun, salah seorang penumpang yang selamat, mengaku shock dengan kejadian Minggu dini hari itu.
Lelaki asal Batu Nglapah, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, yang bekerja sebagai penjual tahu tipat di Terminal Ubung, Denpasar ini, mengaku kejadian itu terjadi begitu cepat. Saat itu dia sedang di ruang terbuka. Saat melihat acara sepak bola di televisi di kapal, tiba-tiba dirinya dikejutkan dua kali suara benturan keras.
Sekitar 15 menit kemudian, muncul petugas kapal yang memberi tahu agar penumpang berhati-hati. Setelah petugas itu pergi, datang kembali nakhoda kapal yang memberi tahu agar penumpang menggunakan alat pelampung.
Saat di ruang paling atas itulah, dirinya baru sadar bahwa ada gangguan pada kapal. Dia melihat air perlahan merembes ke atas menelan badan kapal hingga separo. Di sekelilingnya, orang sudah mulai berteriak histeris. Begitu kapal sudah miring ke kanan, dirinya bersama empat rekannya, nekat mencebur ke laut.
Saat itu ia sempat melihat ada anak kecil berumur tiga bulan bersama kedua orang tuanya. "Saya sempat melihat bayi itu. Tapi setelah itu saya tidak tahu nasibnya," imbuhnya. Setelah beberapa saat mengambang di laut, tak berapa lama, datang kapal penumpang yang menolong. Akhirnya, Mustahid selamat bersama tiga temannya, yang juga asal Lombok Tengah.
PT Jasa Rahardja Cabang Mataram menyatakan, korban meninggal dalam kecelakaan KMP Wimala akan mendapat santunan. Yang meninggal dunia diberi Rp 20 juta, untuk luka (cacat seumur hidup) sebesar Rp 20 juta, kemudian untuk perawatan bagi yang sakit sebesar Rp 10 juta.
Menurut Lukman, bagian operasional PT Jasa Raharja Mataram, ganti rugi akan diberikan sesuai dengan tempat tinggal korban. Misalnya, jika korban bertempat tinggal di Lombok, maka PT Jasa Rahardja Mataram yang akan memberikan. Ganti rugi akan diberikan setelah pendataan penumpang selesai.
Koko Sujatmiko - Tempo News Room