Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nusa

Pengungsi Buru Demo Gubernur Maluku
Senin, 10 Januari 2005 | 15:28 WIB

TEMPO Interaktif, Ambon: Sekitar 100 orang pengungsi asal Kabupaten Buru, Provinsi Maluku berunjuk rasa di kantor Gubernur Maluku, Senin (10/1). Dalam unjuk rasa, demonstran yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak membawa pakaian dalam kopor tas serta membawa beberapa kompor dan peralatan masak lainnya.

Pengunjuk rasa mewakili sekitar 800 jiwa pengungsi asal daerah penghasil minyak kayu putih ini. Mereka melakukan demo untuk menyampaikan masalah yang dihadapi. Tapi sayangnya Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, maupun Wakil Gubernur Maluku, Muhammad Abdullah Latukonsina tidak berada di Ambon. Kedua pejabat ini sedang melakukan kunjungan kerja ke luar Ambon. Asisten II, Sekretariat Daerah Maluku, Abdurahman Somena, yang juga koordinator penanganan pengungsi tidak berada di tempat. Abdurahman tidak diketahui keberadaannya.

Para pengunjuk rasa ini melakukan demo lantaran dari 236 kepala keluarga yang terdaftar sebagai pengungsi asal Kabupaten Buru yang tinggal dibeberapa tempat di Kota Ambon, hanya 93 kepala keluarga yang disetujui dikembalikan ke daerah asalnya. Padahal, Wakil Gubernur Maluku, MA Latukonsina, sudah menyetujui untuk memulangkan sekitar 800 jiwa pengungsi asal Buru pada 10 Desember lalu.

Menurut Ronald Siahaya, Koordinator Pengungsi asal Kabupaten Buru para pengungsi ini tidak jadi dipulangkan sesuai dengan keputusan Pemerintah Provinsi Maluku karena pihak Dinas Kesejahteraan Sosial Maluku beralasan bahan bangunan rumah (BBR) baru keluar pada Januari 2005. Tapi anehnya, setelah pemulangan pengungsi asal Buru tertunda sekitar satu bulan, pihak Dinas Kesejahteraan Sosial Maluku mengeluarkan keputusan kalau pengungsi asal Buru yang akan dipulangkan hanya 93 Kepala Keluarga, dengan alasan pengungsi lainnya tidak punya tempat tinggal di daerah tersebut. ?Ini kan aneh,? kata Ronald.

Hingga pukul 15.30 WIT, para pengungsi masih bertahan di depan kantor Gubernur. Mereka mengancam tidak akan meninggalkan kantor tempat itu selama tidak ada penyelesaian terhadap mereka. Para pengungsi juga mulai menyalakan kompor untuk memasak di depan kantor. Beberapa diantara pengungsi juga meminta bantuan dari pegawai Gubernur untuk membeli makanan siap saji.

Mochtar Touwe?Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data