|
Ambon
Ambon Kembali Memanas
Jum'at, 30 April 2004 | 09:30 WIB
TEMPO Interaktif, Ambon:Situasi di Ambon kembali memanas. Ledakan bom dan rentetan bunyi tembakan senapan mulai terdengar menjelang Kamis tengah malam hingga Jumat dini hari (30/4). Serangan dilakukan kelompok yang menamakan diri Pro-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di kawasan Batu Gantung, Kecamatan Nusaniwe, Ambon.
Informasi yang diperoleh Tempo News Room dari sejumlah
warga sekitar yang dihubungi menyebutkan serangan itu
mengakibatkan sedikitnya 30 rumah terbakar. Belum
dilaporkan adanya korban jiwa atau luka-luka dalam
peristiwa ini. "Kami hanya menonton saja dan tak bisa
melawan, karena tak ada senjata," kata Rheinold. Bersama warga lainnya, ia
semalaman berjaga di kawasan Mangga Dua, yang berlokasi
tak sampai satu kilometer dari kawasan yang diserang.
Menurut penuturan beberapa warga itu, serangan baru
terhenti saat turun hujan cukup lebat sekitar pukul
3.00 WIT. "Sepertinya mereka menggunakan bom yang
dilepas dengan pelontar. Begitu mengenai gedung apotik
yang bertingkat, langsung terbakar dan merembet ke
rumah-rumah di sebelahnya," Rheinold menambahkan.
Informasi yang diperoleh dari pihak penyerang
menyebutkan bahwa aksi mereka itu ditujukan sebagai
balasan atas lemparan bom molotov yang menurut mereka
dilakukan para pendukung Republik Maluku Selatan
(RMS). Pelemparan bom itu dikatakan telah melukai enam
orang warga yang sedang berjaga-jaga di sekitar
kawasan Talake-Waringin.
Dari RS Al-Fatah sendiri sampai pagi ini telah masuk 15 pasien baru dengan
luka-luka bakar dan akibat terkena serpihan bom.
Menurut sejumlah sumber di sana, mereka mendapatkan
luka-luka itu dalam bentrokan yang terjadi malam
hingga dini hari tadi di kawasan Batu Gajah.
Menanggapi berbagai aksi kekerasan yang sepekan ini
kembali menyergap Ambon, Uskup Amboina Mgr. Mandagi
meminta agar aparat keamanan berlaku lebih adil
terhadap warga. Tindakan hukum yang tegas mestinya
tidak hanya dikenakan kepada mereka yang mengaku
sebagai pendukung RMS yang menamakan diri Front
Kedaulatan Maluku (FKM). Tetapi juga kepada mereka
yang menamakan diri sebagai pendukung NKRI yang telah
melakukan aksi pembakaran dan pembantaian.
Apalagi aksi itu juga dilakukan terhadap para
penumpang kapal Doloronda yang tiba di pelabuhan Yos
Sudarso Ambon dari Nusa Tenggara Timur. "Jangan
samakan RMS dengan orang Kristen. Mereka yang RMS
sudah ditahan polisi, tapi mengapa massa NKRI itu
tetap membakar tempat ibadah?" kata Mandagi.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Pendeta Leo
Hitijahubessy, yang memimpin jemaat Bethabara di
Karang Panjang Bawah. Ia menyesalkan anggapan yang
menyamakan umat kristen dengan RMS. "Mereka itu hanya
segelintir saja. Dan kami ini bukan warga negara yang
indekos di Indonesia, kenapa diperlakukan begini?"
Gereja Nasaret yang dimpimpin Leo habis terbakar
bersama 11 rumah warga di sekitarnya dalam serangan
Selasa tengah malam hingga Rabu dini hari lalu. Leo
dan umatnya bahkan bersaksi di hadapan Kapolda Maluku
Brigjen Bambang Sutrisno bahwa mereka melihat anggota
TNI dari kesatuan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud)
11 yang berjaga di sekitar gereja merupakan pelaku
pembakaran dan penjarahan itu. "Jelas sekali kami
melihat semua itu."
Di lokasi kejadian memang masih ditemukan beberapa
butir selongsong peluru aparat seperti disebutkan Leo
dan umatnya. Tempo sendiri masih menemukan beberapa
buah jerigen yang masih menyisakan minyak tanah di
samping gereja dan rumah-rumah yang terbakar itu.
Beberapa botol sisa minuman pun terlihat berserakan.
Masing-masing berisi minyak tanah dan telah dilengkapi
sumbu kain. Saat memasuki salah satu rumah tersebut,
jelas sekali aroma minyak tanah menyeruak. Sementara
di antara sisa-sisa reruntuhan bangunan gereja
ditemukan sedikitnya empat buah bom rakitan yang belum
meledak.
Dibandingkan kemarin, situasi kota hari ini terbilang
lebih sepi. Meski begitu aktivitas tetap terlihat di
sepanjang jalan-jalan utama kota. Pasar-pasar seperti
di Batu Meja dan sekitarnya pun tetap ramai.
Y. Tomi Aryanto – Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|