|
Animo Masyarakat Kutai Kartanegara Kurang
Rabu, 01 Juni 2005 | 15:40 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Meski warga Kutai Kartanegara mendapat kesempatan menjadi warga Indonesia pertama yang memilih kepala daerahnya secara langsung, ternyata mereka tidak terlalu bersemangat.
“Animo masyarakat kurang,” ujar Titi Nurhayati, Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR), dihubungi Rabu (1/6). JPPR adalah salah satu lembaga pemantau dalam pemilihan kali ini.
“Pemilihan kali ini lebih dingin dibanding pemilihan legislative ataupun pemilihan presiden tahun lalu,” tambah Titi. Menurutnya, pada pemilihan tahun lalu, warga berbondong-bondong menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS). Tetapi kali ini tidak. Titi menceritakan bagaimana TPS di dekat kediaman salah satu calon bupati, HR. Syaukani baru dikunjungi pemilih ke-39 pada pukul 10.00 pagi. Padahal pemilih yang terdaftar sekitar 230 orang.
Dinginnya animo masyarakat ini juga diakui konsultan Asia Foundation untuk pemantauan pemilihan kepala daerah, Wandy Nicodemus. “Menurut petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) yang saya temui, ini mungkin karena pekerjaan,” ujarnya.
Nicodemus mengambil contoh TPS 11 di kelurahan Timbau, Tenggarong di mana tercatat ada 417 pemilih. “Yang memilih hanya 277,” ujarnya.
Tetapi memang ada beberapa alasan yang ditemukan JPPR kenapa animo masyarakat kurang. Selain masalah pekerjaan, juga ada pegawai yang sudah tidak lagi tinggal di Kutai saat pemilihan. Padahal mereka terdaftar saat pendaftaran pemilih karena mereka saat itu bekerja di Kutai Kartanegara. “Karena di sini banyak perusahaan tambang yang pekerjanya dari luar,” jelas Titi.
Namun ia juga menambahkan ada alasan lain yang disampaikan pemilih kepadanya. Masyarakat tidak percaya akan ada perubahan siapapun yang akan terpilih.
Masalah animo pemilih ini berkebalikan dengan pernyataan
Ketua Komisi Pemilihan Umum Kutai Kartanegara Ishack Iskandar sebelumnya. Menurutnya, masyarakat antusias dengan pemilihan hari ini.
Secara keseluruhan, pelaksanaan pemilihan kepala daerah pertama di Indonesia ini lancar. JPPR tidak menemukan insiden kekerasan ataupun protes serius. Masalah surat suara berlebih yang sebelumnya menjadi masalah pun tidak muncul lagi. “Kan sudah diselesaikan kemarin (31/5),” ujar Titi.
Purwani D. Prabandari
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|