|
Banjir di Kalimantan Tengah Meluas
Senin, 04 April 2005 | 16:02 WIB
TEMPO Interaktif, Palangkaraya:
Banjir di Provinsi Kalimantan Tengah semakin meluas. Setelah dua kabupaten yaitu Barito Utara dan Murung Raya dilanda banjir, hari ini banjir melanda Kabupeten Barito Selatan. Air mencapai ketinggian antara 50 sentimeter hingga satu meter dan mengakibatkan ratusan rumah warga, rumah ibadah dan sekolah terendam.
Guntikno, 44 tahun, warga Jalan Jelapat, Buntok, Barito Selatan mengatakan, hujan yang turun terus menerus selama lima hari menyebabkan Sungai Barito meluap dan menggenangi sejumlah ruas jalan di kota yakni, pelita Raya, Jelapat Bawah, dan Jalan Raya Buntok Ampah tergenang air.
“Ketinggian air antara 30 cm hingga 50 cm, hingga menyebabkan ratusan rumah terendam air. Daerah terparah di bantaran Sungai Barito. Ketinggian mencapai 1 meter,” katanya, Senin (4/3). Selain menggenangi rumah warga banjir juga merendam sejumlah sekolah, tempat peribadatan dan juga pemukiman warga. Madarasah Tsanawiyah (MTs) di Kompleks Perumahan Pemdatama, Buntok, misalnya, terpaksa diliburkan. Sementara banjir di Barito Utara dan Murung Raya mulai surut, meski air masih menggenangi jalan.
Puruk Cahu, Ibukota kabupaten Murung Raya, air masih merendam puluhan desa, meski sudah surut. Namun, warga masih beraktivitas seperti biasa.
Staf Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah Kabupaten Barut, Mukson, Senin (4/4) mengatakan banjir yang terjadi di daerahnya merupakan hal rutin yang terjadi setiap tahun. “Ini langganan setiap tahun. Masyarakat sudah bisa mengantisipasi sendiri kejadian ini. Pemda belum perlu turun tangan. Banjir ini tak separah 2004. Tapi kami menghimbau warga agar bersiap-siap mengungsi bila air semakin tinggi.”
Banjir juga mendera Batam, Senin (4/4) karena hujan deras sejak pagi dan luapan air yang tidak mengalir dengan sempurna. Di Komplek Centra Melati, Batam, misalnya, air masuk ke rumah hingga setinggi 20 sentimeter. Warga terpaksa memindahkan perabot rumah tangga seperti televisi, kulkas, tempat tidur dan alat elektronik lainnya.
Di beberapa tempat drainase di komplek perumahan maupun di ruas jalan utama tersumbat. Akibatnya air tidak mengalir dengan sempurna dan meluap. Di kawasan Sungai Panas di persimpangan Simpang Kuda dan yang berdekatan dengan Sekolah Dasar Negeri 12 Sungai Panas, air menggenangi ruas jalan hingga 1 meter. Akibatnya kendaraan tidak bisa melalui jalan itu dan antrian kendaraan mencapai 1 kilometer. “ Kami sudah laporkan ke DInas Pekerjaan Umum, tapi tak digubris,” kata Lai Chua, warga Sungai Panas.
Meski banjir sifatnya sementara, namun sangat merisaukan warga. Banjir itu menghambat aktivitas. Nurmala, 23 pekerja Muka Kuning, Batam terpaksa terlambat ke tempat kerjanya. “Perusahaan mana mau tahu? Asal datang terlambat pasti kena sanksi,” kata Nurmala.
Ketua Komisi I Bidang Pembangunan DPRD Kota Batam, Jasarmen Purba mengatakan, seharusnya pihak-pihak terkait -- Pemerintah Daerah, Pengembang –- memperhatikan kawasan pemukiman. Sebab sebelum membangun sebuah kawasan telah diperhatikan pembuangan air, proteksi terhadap banjir dan lain-lain.
DPRD akan memanggil developer atau Pemerintah Daerah sehubungan dengan keluhan warga. “ Nanti kita panggil Developer dan Dinas Pekerjaan Umum,” ujar Jasarmen. Ia banyak menerima keluhan warga soal drainase. karana ww/rumbadi dalle
INDEKS BERITA LAINNYA :
|