|
Raja dikremasi:
Warga Ubud Beri Penghormatan Terakhir
Selasa, 15 Juli 2008 | 14:08 WIB
TEMPO Interaktif, Denpasar:Puluhan ribu masyarakat Ubud, Gianyar dan dari berbagai pelosok Bali, Selasa (15/7), memadati area Puri Ubud. Mereka yang mengenakan pakaian adat madya itu memberikan penghormatan kepada alm.Tjokorda Gede Suyasa yang secara sosial budaya masih dianggap sebagai pewaris tahta kerajaan Ubud.
“Bagi kami beliau tetap seorang raja mekipun tidak lagi memiliki kekuasaan,” kata Gusti Made Bawa, 42 tahun.
Anggapan itu karena almarhum tetap menjadi pengayom bagi warga Ubud. Suyasa menduduki jabatan sebagai pemimpin masyarakat Ubud sejak tahun 1976. Ia juga berjasa membangun sejumlah Pura baik dan diluar Balisemisal di Lumajang dan Kalimantan Timur. “Kalau ada upacara adat dan agama beliau selalu memberi bantuan,” kata Bawa yang turut mengusung Bade (pengangkut jenazah-red) Suyasa.
Prosesi diawali pembacaan mantar-mantra memohon keselamatan dilanjutkan meletakkan jenazah ke atas bade setinggi 28,5 meter dan berat 11 ton. Sebelum diberangkatkan dilakukanlah proses Manah Naga Banda oleh pedanda yang melambangkan terputusya hubungan arwah dengan dunia material. Naga Banda berupa sebuah patung naga raksasa sepanjang 7 meter.
Jasad pun kemudian siap untuk dibawa menuju setra (kuburan-red) yang berjarak 1 km ke arah timur dari lokasi puri. Disinilah kemeriahan pawai terjadi. Dalam iringan Bleganjur yang semarak pengusung bade yang terdiri dari 250 orang dengan bersemangat mentaati aba-aba yang diberikan keluarga raja.
Setiap 100 meter, bade berhenti sejenak untuk digantikan oleh warga yang lain. Total jumlah pengusung mencapai 8.000 orang. Kemeriahan itu mewakili filosofi masyarakat Bali yang mengganggap pelebon bukan sebagai upacara duku tetapi cara untuk menghibur arwah almarhum yang hendak berangkat ke alam keabadian.
Sesampainya di setra, jenazah kemudian diperciki dengan air suci dan dilanjutkan dengan pembakaran. Demikian pula, dengan bade serta patung-patung binatang yang melambangkan pengiring sang raja. Proses diakhiri dengan pembunyian lonceng oleh pendeta untuk menolong juwa mencapai surga.
Selain Tjok Suyasa, kremasi juga dilakukan pada dua kerabat terdekatnya yakni Tjokorda Gde Raka dan Gung Niang Raka. Selain itu, 68 jasad warga Ubud juga diaben massal sehingga akan menemani arawah sang raja.
“Saya sangat bang karena salahtu keluarga saya juga mengikutinya,“ kata Made Bawa.
Upacara kolosal yang melibatkan 67 desa adat dan dilaksanakan setelah 29 tahun itu tak pelak menjadi tontonan menarik bagi turis. Sejumlah pejabat tinggi juga turut hadir seperti Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution. Ada pula sejumlah tokoh seperti Ketua Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) Laksamana Sukardi, mantan menteri Orde Baru Moerdiono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono, calon Gubernur Bali tepilih Made Mangku Pastika, dll. Rofiqi Hasan
INDEKS BERITA LAINNYA :
|