Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Air Bersih di Jawa Barat Makin Menipis
Kamis, 22 Mei 2008 | 21:15 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:Warga Jawa Barat makin sulit mendapatkan air bersih. Ahli lingkungan dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda Mubiar mengatakan salah satu penyebab kesulitan ini, lantaran belum ada upaya dari pemerintah untuk membangun sumber air.

Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, pemerintah setempat menanamkan investasi untuk membangun sumber air. “Sumber-sumber air itu dibentuk dari hutan kota atau danau,” ujarnya.

Direktur Bandung Institute of Governance Studies Siti Fatimah mengatakan, pihaknya pernah menggelar survei tentang layanan dasar pemerintah yang dapat diakses publik. Survei yang melibatkan 500 responden itu dilakukan dua kali yaitu tahun 2002 dan 2005. “Hasilnya, penyediaan air bersih merupakan layanan dasar yang menempati peringkat pertama,” katanya.

Menurut Fatimah, dari survei di Kota Bandung itu terlihat banyaknya warga yang tidak puas dengan layanan penyediaan air bersih. “Kami juga melihat kebijakan pemerintah dalam penyediaan air bersih ini masih bersifat policy follows budget,” ujarnya.

Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Tata Ruang dan Permukiman Jawa Barat Aat Taryana mengatakan pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan pemerintah kota dan kabupaten sudah mengupayakan penyediaan air bersih bagi warga dengan memasang pengolah air bersih water treatment plant (WTP). “Program ini sudah kami lakukan sejak tahun 2003,” katanya.

Pengolah air ini, kata Aat, dibangun di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Barat antara lain Bekasi, Indramayu, Karawang, Subang, dan Cirebon. “Masing-masing dapat mengalirkan air 50 liter per detik,” ujar Aat.

Aat mengakui, dalam penyediaan air bersih untuk warga ini banyak masalah yang belum terpecahkan. Misalnya, kata Aat, sumber air baku di daerah metropolitan terbatas. “Begitu pula dengan keuangan dan sumber daya manusia,” katanya.

Kepala Bagian Hubungan Langganan PDAM Kota Bandung Boy Tagajagawani mengatakan pihaknya sudah membuat keran umum di hampir 900 tempat di Kota Bandung. “Kami prioritaskan pelayanan yang sifatnya komunal,” katanya.

Meski begitu, Boy mengakui pelayanan air bersih bagi warga masih kurang. Saat ini, kata Boy, debit air yang bisa dihasilkan PDAM Kota Bandung baru 2.600 liter per detik. “Padahal idealnya bisa dua kali lipat,” katanya.

Rana Akbari Fitriawan


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk123532 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data