Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Tujuh Buruh Luka Akibat Bentrok dengan Polisi
Rabu, 21 Mei 2008 | 15:39 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Peserta aksi unjuk rasa dari Forum Perjuangan Rakyat Malang (FPRM) bentrok dengan Polisi saat berunjuk rasa di depan Balai Kota Malang, Rabu (21/5). Akibat bentrokan ini, tujuh peserta aksi mengalami luka-luka akibat pukulan polisi dan tiga orang lainnya ditangkap.

Mereka yang mengalami luka-luka diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan kesehatan. Sedangkan tiga orang yang ditangkap telah dilepas kembali setelah dimintai keterangan di Polresta Malang. Mereka yang ditangkap adalah Kholil, Caping, dan Sullivan. Ketiganya adalah pengurus Serikat Buruh Seluruh Indonesia Kota Malang.

Menurut Koordinator FPRM, Misdi, Polisi telah bertindak di luar batas kewajaran dalam menangani aksi unjuk rasa. Padahal, para peserta aksi hanya ingin masuk ke dalam Balai Kota Malang untuk bertemu dengan pejabat Pemkot Malang. "Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi, tapi Polisi telah bertindak brutal," katanya saat menggelar jumpa pers usai aksi unjuk rasa.

Kasat Intel Polresta Malang, AKP Jaenuri mengelak jika dikatakan Polisi bertindak brutal. Menurutnya, Polisi sudah memperingatkan massa pengunjuk rasa agar tak bertindak anarkis dengan menjebol pintu pagar Balaikota. Karena, peringatan itu tak diindahkan, Polisi akhirnya membubarkan aksi unjuk rasa. "Kami tak melakukan kekerasan karena tak bersenjata. Kami hanya membubarkan. Yang luka mungkin terkena dorongan temannya sendiri," ujarnya.

FPRM yang merupakan aliansi buruh dan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa untuk menentang kenaikan harga BBM. Sebelum berdemo di Balaikota Malang, FPRM menggelar aksi di Pendopo Kabupaten Malang. Aksi di Pendopo Kabupaten Malang berlangsung damai dengan diwarnai penyegelan terhadeap Pendopo.

Misdi mengatakan kenaikan harga BBM akan membuat beban hidup kaum buruh semakin susah karena upah buruh hanya naik satu kali selama setahun. Kenaikan upah buruh juga tidak besar atau tidak sampai 20 persen. Sedangkan kenaikan harga BBM direncanakan hingga 30 persen. "Secara real, upah buruh mengalami penurunan."

Selain FPRM ada tujuh gelombang aksi unjuk rasa untuk menentang kenaikan harga BBM di Kota Malang di Gedung DPRD Kota Malang, Rabu (21/5). Mereka yang berdemo berasal dari BEM Kota Malang, IMM, GMNI, KAMMI, dan HMI. Bibin Bintariadi


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk123410 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Pemerintah Anggarkan Dana Otonomi Khusus Rp 8 Triliun
Bayi Perempuan Matt Damon
Warga Pakistan Aniaya Perempuan
Pemekaran Tidak Serius Bebani Keuangan Negara
Lightning Bolt

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data