Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Bahan Bakar Minyak Naik:

Organda Kediri Ancam Mogok Masal
Selasa, 13 Mei 2008 | 19:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Rencana pemerintah menaikkan harga BBM mendapat reaksi keras para pengusaha angkutan umum di Kota dan Kabupaten Kediri. Ribuan angkutan umum menyatakan akan melakukan aksi mogok masal jika pemerintah tetap nekat menaikkan harga BBM. Pasalnya saat ada kenaikan BBM dua tahun silam, 40 persen jumlah angkutan umum tersungkur tidak mampu beroperasi.

"Kenaikan harga BBM tahun 2005 lalu benar-benar menghantam angkutan umum. Jika sekarang mau dinaikkan lagi jelas dampaknya lebih parah. Untuk itu kami akan mogok masal jika pemerintah tetap menaikkan harga BBM," kata Subur Santoso, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Organda (organisasi pengusaha angkutan darat) wilayah Kota dan Kabupaten Kediri, Selasa (13/5).

Menurut Subur, kenaikan harga BBM kali ini jelas akan memukul usaha angkutan umum hingga mengurangi jumlah 50 persen kendaraan umum yang beroperasi. Dibanding kenaikan harga BBM tahun 2005 yang menyebabkan jumlah kendaraan umum turun hingga 40 persen, kenaikan kali ini pasti akan membuat jumlah kendaraan umum makin
merosot.

"Karena kenaikan ini bukan hanya perkara BBM, tapi berimbas pada naiknya harga ban, suku cadang kendaraan dan ongkos operasional sopir dan kenek," kata Subur.

Setelah diterpa kenaikan BBM tahun 2005 lalu, menurut Subur para pengusaha angkutan banyak yang gulung tikar. Selain itu para sopir dan kenek juga mengalami kemunduran penghasilan karena banyak yang menerapkan sstem kerja bergilir untuk menghindari pengurangan tenaga kerja.

Dia mencontohkan, perusahaan angkutan bus PO Hasti yang berpusat di Kediri sebelum tahun 2005 memiliki 90 bus. Setelah diterpa kenaikan BB tahun 2005 kini hanya memiliki 15 bus. Pengusaha angkutan kota (mikrolet) juga banyak yang akhirnya menutup usahanya karena tidak kuat menanggung beban operasional.

Sejumlah rute angkutan kota di Kota kediri yang kini telah binasa diantaranya lin C. Sedangkan lin G, E dan H tinggal sebagian yang masih nekat jalan. Sedangkan di wilayah Kabupaten Kediri Kediri, 12 angkutan umum dengan jurusan lin Pare-Kandangan-Kencong dengan label G1 dan G2 sudah tidak beroperasi lagi. Angkutan umum rute Badas-Kunjang-Pare yang jumlahnya 15 dengan label lin M juga berhenti total. Sembilan angkutan umum lin U jurusan Pare- Gudo-Kunjang juga telah mati. Lin X jurusan Purwoasri-Tawang-Pare yang berjumlah 4 unit juga sudah tidak mampu beroperasi.

Berdasarkan data di Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri, angkutan umum tahun 2008 terdiri dari Mobil Penumpang Umum (529 unit), Bus (178 unit) dan Mobil Barang (2.123 unit). Sedangkan di Kota Kediri, pada tahun 2008 angkutan umum terdiri dari Mobil (54 unit), Bus (258 unit), Mobil Barang (930 unit), Taxi (20 unit) dan Angkutan Kota (85 unit).

"Jika pemerintah tetap menaikkan harga BBM, saya yakin jumlah angkutan umum akan terus merosot," kata Subur. DWIDJO U. MAKSUM


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk123003 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Awa! Ranjau Paku di Sekitar Anda!
Pemerintah Anggarkan Dana Otonomi Khusus Rp 8 Triliun
Bayi Perempuan Matt Damon
Warga Pakistan Aniaya Perempuan
Pemekaran Tidak Serius Bebani Keuangan Negara

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data