Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kakak Beradik Meninggal Gara-gara Demam Berdarah di Bandung
Selasa, 26 Juli 2005 | 00:10 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:Pemerintah kota Bandung memberikan santunan kepada keluarga Yudi Maulana. Yudi kehilangan dua putranya akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Santunan sebesar Rp 5 juta itu diambil dari anggaran Dinas Kesehatan Kota Bandung dan diberikan langsung oleh Walikota Bandung Dada Rosada di rumah korban, Selasa (26/7) pagi.

Dua bocah kakak beradik yang meninggal itu adalah Rafi
Maudiaji dan Saqif Amar Naufal. Rafi, 9 tahun,
meninggal Jumat (22/7) malam sekitar pukul 21.30,
sedangkan Saqif, sang adik, meninggal Senin (25/7)
dini hari sekitar pukul 01.10.

Menurut Yudi, peristiwa itu berawal saat Rafi
menderita demam sejak Minggu (17/7) lalu. Namun Yudi
menganggap amandel Rafi sedang kumat. Maklum, siswa
kelas empat SD Negeri Percobaan Pajagalan 58 Bandung
itu memang kerap merasakan sakit amandel sejak berusia
4 tahun. "Dia jarang makan buah-buahan,"kata pria
berusia 39 tahun itu.

Keesokan harinya, Senin (18/7), Yudi memeriksakan
putra sulungnya itu ke dokter. Yudi juga mengantar
Rafi untuk cek darah di laboratorium. "Dari hasil
pemeriksaan, tidak ada indikasi yang mengarah pada
demam berdarah,"ujar warga Jalan Siti Kelurahan
Karanganyar Kecamatan Astanaanyar itu.

Sampai Rabu (20/7) malam, panas badan Rafi tidak
kunjung turun. Yudi mencoba memeriksakan Rafi ke
dokter yang berbeda keesokan harinya. Tapi kondisi
Yudi semakin parah. "Bahkan pada Jumat malam dia mulai
kejang dan bicaranya melantur,"katanya.

Saqif, adik Rafi satu-satunya, mulai merasakan gejala
yang sama. Malang tak bisa ditolak. Kondisi daya tahan Rafi yang terus menurun memaksanya tak bertahan lama. Baru saja Rafi dibawa ke Rumah Sakit Immanuel Bandung pada Jumat malam sekitar pukul 18.30, dokter yang menanganinya tak bisa berbuat banyak. Dia menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 21.30. "Setelah dia meninggal, saya baru tahu kalau itu demam berdarah," kata Yudi.

Cobaan bagi Yudi, serta istrinya, Petty Rosdiana belum
berakhir. Kondisi Saqif, putra bungsu mereka, juga
tidak kunjung membaik. Meski pada hari Kamis (21/7),
Saqif sudah dibawa ke dokter, sampai Jumat malam
panasnya tetap tinggi. "Jumlah trombositnya terus
turun. Sampai kemarin (Minggu, 24/7), trombositnya
hanya 117,"katanya.

Kondisi itu terus memburuk sampai nyawa Saqif juga
tidak bisa diselamatkan. Sempat koma beberapa jam,
bocah yang baru saja masuk taman kanak-kanak itu
meninggal pada Senin dini hari pukul 01.10. Kedua
bocah itu dimakamkan di pemakaman keluarga di kawasan
Soreang.

Salah seorang kakak ipar Petty yang enggan disebut
namanya mengatakan pemerintah kota Bandung kurang
serius dalam melakukan sosialisasi bahaya DBD bagi
warga Bandung. "Apalagi saat ini, jumlah pasien DBD
bertambah terus," katanya. Dia berharap santunan dari
Pemkot Bandung ini mencerminkan keseriusan pemkot.

Sementara itu, sebelum keluarga korban menerima
santunan, Dinas Kesehatan Kota Bandung melakukan
pengasapan ke rumah-rumah yang berdekatan dengan
tempat tinggal Yudi. "Pengasapan kami lakukan untuk
daerah yang positif ada kasus demam berdarah,"kata
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Gunadi Sukma
Binekas.

Rana Akbari Fitriawan


Dari Arsip Majalah TEMPO
Pemerintah Gagal Mengantisipasi DBD | 21 Pebruari 2005
Menguji Jambu Biji | 14 Pebruari 2005
Tak Perlu Lagi Mikirin Biaya | 14 Pebruari 2005
Petaka dari Salah Diagnosis  | 23 Pebruari 2004
Yang Datang tanpa Bintik Merah  | 09 Pebruari 2004
Protein Anti-Demam Berdarah  | 31 Maret 2003
Demam Berdarah  | 03 Maret 2003
'Chikungunya'  | 03 Maret 2003
Pencegahan | 17 Pebruari 2003
Awas, Demam Berdarah  | 11 Pebruari 2002
>>selengkapnya ::

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Pasien penderita demam berdarah di RS Grogol, Jakarta [ Rini PWI/ TEMPO; 27C/127/88; 20001216 ]. Pasien penderita demam berdarah di RS Grogol, Jakarta [ Rini PWI/ TEMPO; 27C/127/88; 20001216 ].

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

15 Pasien DBD Meninggal Selama 2005
Penderita DBD di RS Budi Asih Terus Berdatangan
15 Desa di Tulungagung Terserang Demam Berdarah
Jakarta Timur Tetap Waspada Demam Berdarah
Dinkes Bekasi Bentuk Tim Pasca Banjir
70 Kasus DBD Ditemukan di Papua
Ikan Cupang Bantu Berantas DBD
Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Akan Tambah Pemantau Jentik
Pemberantasan Sarang Nyamuk Sampai Pertengahan Tahun
Diare Mulai Turun Namun Tetap Mengancam
> selengkapnya...


Referensi

Demam Berdarah
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1331/ Menkes / SK / X / 2002. Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.167 / KAB / B.V I I I / 1972. Tentang Pedagang Eceran Obat
Kepres RI No. 12 Thn.1994 Tentang Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional
UU RI No.23 Thn.1992 Tentang Kesehatan
Status Propinsi Terhadap KLB DBD (sampai dengan 17 Maret 2004)
Sebaran Demam Berdarah Dengue 1968 - 2003

Website

Info Penyakit Menular
Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Departemen Kesehatan


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Panwas Protes KPU Jawa Timur
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden
Ibu Tewas Tertabrak Bus Transjakarta
Kejaksaan Sudah Periksa 7 Orang
Tersangka Bom Ikan Ditangkap

<< July,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data