|
Akibat Virus Flu Burung Peternak Unggas di Banten Resah
Senin, 18 Juli 2005 | 14:39 WIB
TEMPO Interaktif,
Serang:Kabar soal virus flu burung yang telah merenggut Iwan Siswara Rafei dan dua putrinya di kawasan Tangerang membuat resah petani unggas di Provinsi Banten. Setiap hari mereka mengaku rugi Rp 150 juta karena banyak pelanggan membatalkan pembelian unggas.
"Kami benar-benar resah, banyak pembeli yang membatalkan transaksi. Bahkan di Bandung semalam kiriman ayam kami ditolak pemesannya tanpa alasan jelas,” kata Sutiadi petani unggas Kecamatan Cikeusal, Banten, Senin (18/7).
Ia bersama lima rekannya sengaja datang ke balai wartawan di Serang untuk mengadukan keresahan mereka. Ia meminta pemerintah segera membuat pernyataan kalau unggas lokal masih aman untuk dikonsumsi. Begitu juga kalau tidak aman segera umumkan. “Jadi kami tidak resah dan merugi," ujarnya.
Sebelum pemberitaan serangan flu burung mencuat, kata Sutiadi, harga daging ayam di pasaran masih mencapai Rp 6.500 per kilogram. Tetapi akibat pemberitaan virus flu burung, harga anjlok menjadi Rp 4.000 per kg. Padahal, setiap hari, peredaran daging ayam di Banten dari peternak mencapai 50 hingga 100 ton.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten, Endhie D Setiawan mengaku belum mendengar keresahan petani unggas tersebut. Namun, ia beserta sejumlah Dinas Pertanian dan Pertanakan daerah lain telah berkoordinasi untuk menyeleksi pengedaran daging ayam di pasaran.
"Kami hanya berupaya mengantisipasi merebaknya flu burung. Soal keresahan itu saya akan cek dulu," kata Endhie. Faidil Akbar
INDEKS BERITA LAINNYA :
|