|
Ratusan Tenaga Bantu Cianjur Demo
Rabu, 01 Juni 2005 | 18:50 WIB
TEMPO Interaktif, Cianjur:Ratusan tenaga bantuan atau honorer yang bekerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cianjur, unjuk rasa ke DPRD Kabupaten Cianjur, Rabu siang (1/6). Mereka menuntut pengangkatan menjadi pegawai negeri sipil (PNS) secara otomatis serta peninjauan kembali rencana pemangkasan dengan sistem pemutusan kontrak bagi yang berusia lebih dari 40 tahun.
Para pekerja itu terdiri dari tenaga kerja khusus, honorer daerah (Honda), pegawai tidak tetap, guru bantu sekolah, dan lain-lain. Mereka rata-rata menerima honorarium setiap bulan antara Rp 110 ribu hingga Rp 410 ribu. Rata-rata mereka sudah mengabdi di lingkungannya selama belasan tahun dan belum juga diangkat mejadi PNS.
Menurut Nenden Raspati, 35 tahun, salah seorang dari 425 pendemo, berdinas di PU Binamarga, sejak tahun 1992 ia bekerja di bagian Tata Usaha. Berkali-kali pula ia mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS). "Hasilnya, masih tetap gagal,"ujarnya.
Unang punya pengalaman senada, pegawai Bagian Umum Sekretariat Daerah itu menuding ada praktik kolusi dalam sistem pengangkatan CPNS tahun 2003-2004. Ia sendiri berani menunjukkan bukti-bukti bahwa tudingannya tersebut bukan sekedar fitnah. "Malah, saya bisa tunjukkan orangnya ada di sini yang banyak membantu meloloskan CPNS,"kata Unang.
Selain itu, Unang pun meminta pihak Pemkab Cianjur menaikkan honorarium secara realistis. "Kami tahu beban anggaran untuk menaikkan honorarium itu berat, tapi kebutuhan kami juga setiap tahun terus bertambah,"keluh Unang.
Unang juga menilai pihak Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Kabupaten Cianjur tidak konsisten. "Mereka bilang, mulai tahun 2004 tidak akan menerima tenaga bantu lagi. Nyatanya, setiap tahun ada penambahan terus di setiap dinas dan instansi di lingkungan Pemkab,"kata Unang.
Kasus yang paling tragis dialami Dede Saefudin, 37 tahun. Tenaga bantuan di lingkungan Dinas Perhubungan dan Pariwisata ini sudah hampir 18 tahun bekerja. Sejak tahun 1987 ia diiming-imingi status PNS lantaran prestasinya di bidang olahraga tinju. Sebagai atlet tinju amatir dengan nama populer Ade Widal, malang-melintang membawa harum nama Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, bahkan Indonesia, di atas ring tinju.
Puluhan medali emas, perak, dan perunggu pun diraupnya, mulai dari Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat, Kejuaraan Tinju Jawa Barat, Piala Pattimura, Sarung Tinju Emas, Piala Raja di Thailand, hingga Pesta Sukan di Singapura. Prestasi tertingginya meraih medali emas pada Pesta Sukan di Singapura tahun 1990.
Menurut Dede alias Ade Widal, ia menjadi tenaga bantuan di lingkungan Pemkab Cianjur bukan atas keinginannya, melainkan ditawari karena prestasinya. "Namun, saya tak kunjung diangkat menjadi PNS karena harus setor uang pada oknum pegawai di Kantor BKD, sekitar Rp 30 juta," kata Dede.
Ratusan TB tersebut diterima Komisi I DPRD Kabupaten Cianjur di Ruang Sidang Paripurna DPRD. Ketua Komisi I, Mohammad Isnaeni, menegaskan, pihaknya siap menjembatani keinginan para TB tersebut dengan memanggil instansi terkait termasuk Kepala Kantor BKD Kabupaten Cianjur. "Jika perlu, kami bisa sekalian panggil Bupati Cianjur untuk menjelaskan masalah ini,"kata Isnaeni.
Isnaeni juga memberi jaminan tidak akan ada tekanan atau intimidasi terhadap para tenaga honorer yang menyampaikan aspirasinya. "Kami minta kepada atasan terkait, tidak boleh ada tindakan apapun yang berbentuk tekanan atau intimidasi terhadap mereka,"ujarnya.
Saat ini, tercatat ada sekitar 3.000-an karyawan di lingkungan Pemkab Cianjur yang statusnya masih tenaga bantu.
Deden Abdul Aziz
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|