|
Jawa Barat
Sindikat Penjual Dara Sukabumi Digulung
Jum'at, 27 Mei 2005 | 20:02 WIB
TEMPO Interaktif, Sukabumi:Sebuah sindikat penjualan perempuan dengan kedok penyalur tenaga kerja berhasil digulung aparat Kepolisian Resort Kota Sukabumi. Para perempuan muda yang masih di bawah umur itu dijual dan dipaksa menjadi pelacur di kawasan lokalisasi Amplang-amplang dan Peleju, Pekanbaru, Riau.
Empat orang ABG asal Sukabumi berhasil dipulangkan dari tempat pelacuran di Pekanbaru, Riau, Kamis (26/5) lalu. Keempat ABG itu, tigaa warga Kampung Cibeureum Nyalindung, Kecamatan Sukaraja, seorang warga Sedong Kecamatan Sukalarang Kabupaten Sukabumi.
Polisi juga meringkus dua pelaku, Ate alias Uke, 45 tahun, warga Cibeureum Nyalindung dan Jujun Jakaria, 70 tahun, warga Mangga Besar Jakarta, pemilik sebuah yayasan penyalur tenaga kerja bernama Yayasan Karya Setiawan. Keduanya kini meringkuk di sel tahanan Markas Polresta Sukabumi. Dua anggota sindikat lagi masih buron dan saat ini sedang dalam pengejaran petugas polisi.
Berdasarkan keterangan, praktek penjualan ABG tersebut terbongkar setelah Ny Neneng (40), ibu kandung salah seorang korban, seminggu lalu, menerima kontak dari anaknya. Menurut Neneng, saat itu anaknya mengaku berada di Pekanbaru, Riau, dan bekerja di kawasan lokalisasi.
Atas keterangan anaknya tersebut, Neneng kemudian melapor ke Polresta Sukabumi. Setelah dilakukan penyelidikan, petugas dari Satuan Reserse Kriminal kemudian berhasil menangkap Ate alias Uke. Dari keterangan Uke, petugas kemudian mencokok Jujun Jakarsih.
Dari keterangan Uke, ia menawari anak-anak itu untuk bekerja di Jakarta sebagai pelayan restoran dan bar dengan iming-iming gaji yang besar. Biasanya, Uke mendekati mangsanya di Salon Irfan di daerah Cibeureum Nyalindung. Pertama kali Uke berhasil dua orang gadis, sebulan kemudian dua lagi. Mereka dibawa ke Kantor Yayasan Karya Setiawan dengan dalih akan disalurkan.
Setelah menunggu beberapa hari, dua dara diterbangkan ke Pekanbaru oleh Zaenal (masih buron) untuk dipekerjakan di tempat-tempat hiburan. Ternyata, mereka malah dibawa ke lokalisasi dan diserahkan kepada germo setempat.
Seorang korban mengaku semula tidak tahu akan dijual ke tempat pelacuran. Ia hanya dijanjikan pekerjaan sebagai pelayan restoran di Jakarta. "Saya baru tahu setelah dibawa ke sebuah tempat dan harus melayani laki-laki,"kata Matahari, sebut saja begitu saat ditemui di Markas Polresta Sukabumi, Jumat.
Menurut Mata, setiap hari sedikitnya ia harus melayani laki-laki sebanyak 8 kali. Tarif yang dikenakan untuk setiap laki-laki sekitar Rp 200 ribu. Namun, ia tidak mendapatkan upah sepeserpun dengan alasan untuk mengganti ongkos-ongkos dan biaya hidup di sana.
Lantaran merasa telah ditipu, para ABG itu lantas mencari jalan untuk melarikan diri, tapi mereka tidak berhasil. Untung, slah seorang dara itu bisa melakukan kontak kepada orangtuanya. Keempat ABG tersebut berhasil pulang setelah petugas memaksa Jujun memulangkan anak-anak itu.
Polisi saat ini masih terus meminta keterangan ABG yang jadi korban trafficking tersebut. Sebab, berdasarkan pengakuan mereka, masih banyak ABG yang ada di sana. "Kalau saya dengar, kebanyakan mereka berasal dari Cianjur,"kata Matahari.
Deden Abdul Aziz
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
| Lokalisasi Pelacuran Gang Dolly
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|