Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jawa Barat

Dinas Kesehatan Khawatir Polio Meluas
Rabu, 11 Mei 2005 | 14:14 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:Kepala Sub Dinas Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jawa Barat Fatimah Remiati mempertanyakan alasan pemindahan tiga anak yang diduga terkena polio ke Bandung oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan ke Rumah Sakit (RS) Hasan Sadikin Bandung. Ia khawatir malah memperluas transmisi penyebaran virus polio.

"Yang kita khawatirkan itu kalau si anak membawa virus polio liar, siapa yang bisa ngejamin tidak menular ke anak yang lain," kata Fatimah ketika dihubungi melalui pesawat telepon genggamnya di Bandung, Selasa (10/5).

Sebelumnya, Senin (9/5), tiga anak yang diduga mengidap polio, yakni Muhammad Lutfi (1 tahun 6 bulan), Ismail (2 tahun), dan Siti Fitria (7 tahun) dibawa oleh LBH Kesehatan dengan menggunakan angkutan umum colt L-300 jurusan Sukabumi-Bogor dari Kecamatan Cidahu menuju RS Hasan Sadikin Bandung.

Fatimah menilai tindakan LBH Kesehatan membahayakan masyarakat luas karena membawa pasien yang diduga membawa penyakit menular tanpa mengindahkan prosedur. Fatimah memberi pembanding ketika membawa Fikri Ramdani (11 tahun 8 bulan) dari Kecamatan Cidahu untuk diperiksakan ke RS Rancabadak Sukabumi. Korban yang mengidap penyakit polio berasal dari virus liar itu dibawa dengan kendaraan khusus, dan hanya boleh ditemani orang dewasa yang punya daya tahan lebih. Selama diperiksa di RS Rancabadak ia dirawat di ruang isolasi khusus.

"Itu protap yang betul, apakah LBH (Kesehatan) tahu protap membawa anak dengan penyakit menular," kata Fatimah.

Saat dikonfirmasi masalah ini, Ketua LBH Kesehatan Iskandar Sitorus mengatakan pihaknya memindahkan tiga pasien polio dari Sukabumi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin karena pertimbangan kemanusiaan.

"Dinas kesehatan tidak memberi pengobatan kepada mereka. Imunisasi kan bukan pengobatan," ujarnya kepada Tempo saat dihubungi Selasa (10/5). Lagipula, kata Sitorus, kepindahan tiga anak itu berdasarkan kuasa dari tiga orang tua pasien.

Sitorus justru mempertanyakan kekhawatiran Dinas Kesehatan. Menurutnya, setiap pasien memiliki hak untuk berobat di manapun. Soal kendaraan khusus, "Kendaraan khusus seperti apa? Di Indonesia tidak ada kendaraan khusus yang dia maksud," katanya.

ahmad fikri/rana akbari fitriawan


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

22 Ribu Bayi dan Balita di Jakarta Timur Akan Diimunisasi
Rp 40 Miliar Disediakan untuk Imunisasi Polio
Depkes: Pemberitaan Polio Meluas Hasil Mark-Up
952 Ribu Balita Diimunisasi Ulang
Korban Polio Tak Boleh Keluar dari Sukabumi
Akhir Mei, Penelitian 12 Penderita Lumpuh Layu Selesai
Tangerang Butuh Ribuan Tenaga Medis Imunisasi Polio
Jakarta Siaga Polio
Tiga Balita di Lebak Terkena Polio
IDAI: NTB Hampir Bebas Polio
> selengkapnya...


Referensi

Polio Impor di Sukabumi (II)
Polio Impor di Sukabumi

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2005>>
MSnSl RK JS
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data