|
Kebakaran di Bandung, 11 Rumah Ludes
Minggu, 01 Mei 2005 | 19:57 WIB
TEMPO Interaktif, BANDUNG: Sebelas rumah dan satu bangunan eks Radio Frequency Communication (RFC) di atas bekas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciharupan terbakar habis, Minggu (1/5) dini hari. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa yang penyebabnya masih simpang-siur itu.
Sebagian warga menduga asal api dari hubungan pendek aliran listrik akibat televisi yang meledak. Lainnya beranggapan api dari gas metan yang dihasilkan timbunan sampah eks TPA yang sudah ditutup lebih dari 20 tahun lalu. TPA itu sempat menjadi tempat pembuangan sampah hampir sepuluh tahun. "Entah (penyebabnya) gas alami yang meledak itu atau dari listrik," kata Yati, 53 tahun, Ketua RT 09/RW 01 Kelurahan Dago,
Kecamatan Coblong, Bandung.
Menurut keterangan warga, api berasal dari dapur rumah milik Aang, 57 tahun. Rumah Aang yang berdinding kayu itu berada di ujung barisan rumah lainnya. Petugas keamanan bekas bangunan RFC, saat api mulai membesar, sedang tidur. Euis, 45 tahun, istrinya yang menemukan api sudah melalap hingga plafon dapur rumah bilik itu. Euis langsung membangunkan Aang. "Waktu saya bangun api sudah besar, saya suruh orang rumah ke luar," kata Aang.
Warga yang rumahnya berdekatan dengan rumah milik Aang itu kebetulan masih banyak yang terjaga. Menurut Ade Rahmat, 20 tahun, penghuni rumah yang persis bersebelahan dengan rumah milik Aang - warga banyak yang belum tidur setelah mengejar pencuri motor yang lari melewati gang kecil di depan deretan rumah mereka. Gang itu menuju ke Terminal Dago. "Untung, jadi tidak ada yang korban," katanya.
Api yang berasal dari rumah milik Aang menerbitkan kecurigaan warga akan penyebab kebakaran itu. Pasalnya, hampir semua tetangga Aang tahu kalau rumah itu masih memakai gas alam yang berasal dari timbunan sampah di bawah rumah-rumah warga. Memang bukan hanya Aang saja yang pernah memanfaatkan gas alam itu, hampir semua rumah warga yang berdiri di atas bekas TPA yang ditutup lebih dari 20 tahun lalu pernah
memakainya.
Deni, 25 tahun, anak ke tiga Aang menuturkan. "Caranya gampang, tinggal tancepin besi bolong ke tanah di sini, sepanjang ini (menunjukkan panjang tangan kirinya), langsung dinyalain - keluar apinya," katanya. Api itu yang dipakai untuk keperluan memasak di dapur.
Menurut Deni, api gas alam dari sampah itu masih digunakan di rumahnya hingga hari naas itu. Sementara, gas yang berada di rumah-rumah lain yang berdiri di atas bekas TPA itu mulai padam satu demi satu. Gara-gara itu, dugaan api berasal dari gas alam yang meledak sebagai penyebab kebakaran muncul.
Tudingan itu dibantah Aang. Menurutnya, sudah setahun lebih gas alam di rumahnya padam. Aang bersikeras, api berasal dari hubungan pendek arus listrik. Sementara Euis, yang tahu persisi kejadian itu mengaku sudah mendapati api sudah melalap dinding
bangunan yang terbuat dari kayu. "Waktu masuk dapur, api sudah besar," kata Euis.
Kurang dari setengah jam, api langsung merembet ke belasan rumah yang berdinding kayu tripleks dan berdiri saling berimpitan di tanah yang luasnya cuma 400 meter. Lima puluh empat jiwa yang sedang tidur di dalam sebelas rumah itu berhamburan ke luar.
Petugas kebakaran datang ketika api sudah keburu menghanguskan belasan rumah dan merembet hingga satu bangunan eks RFC yang berdekatan dengan rumah warga yang terbakar. ahmad fikri
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Kepulan asap hitam saat kebakaran pabrik AKI GS di tepi jalan tol Bandara Soekarno - Hatta, Cengkareng, Jawa Barat, 1993. [ TEMPO/ Ivan Haris; 18D/050/1993; 20020530 ].](/hg/photostock/2005/03/25/s_18D05007_high_thumb.jpg) |
![Penduduk berusaha memadamkan api saat kebakaran rumah di Jl. Casablanca, Jakarta, 26 April 2001. [TEMPO/ Hendra Suhara; K2A/046/2001; 20010702].](/hg/photostock/2005/03/10/s_K2A04603_high_thumb.jpg) |
|
|
| Kebakaran Rumah di Casablanca
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|