Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jawa Madura

Ribuan Warga Solo Berebut Gunungan Sekaten
Kamis, 21 April 2005 | 18:41 WIB

TEMPO Interaktif, Solo:Ribuan warga Solo dan sekitarnya berdesakan di Kori Kamandungan Keraton Surakarta untuk mencari berkah dengan memperebutkan gunungan sekaten. Sebanyak 16 gunungan sekaten saing tadi dikeluarkan Keraton Surakarta dalam rangka upacara Grebeg Maulud.

Grebeg Maulud 1938 tersebut dilaksanakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Gunungan yang terbuat dari hasil bumi seperti kacang panjang, ketimun, terong, pisang, serta makanan kecil seperti rengginan dan roti diperebutkan warga yang menyaksikan upacara tersebut. Mereka masih mempercayai jika mendapatkan sesuatu dari gunungan tersebut, mereka akan mendapatkan berkah.

Prosesi keluarnya gunungan dimulai dari Kori Brojonolo, Keraton Surakarta, ditandai bunyi terompet dan tambur. Untuk upacara kali ini, 16 gunungan atau delapan pasang gunungan diperebutkan warga usai upacara.

Jumlah gunungan tersebut sebagai simbol daerah di wilayah Surakarta, yaitu Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, serta Kabupaten Wonogiri. Masing-masing daerah diwakili dua buah gunungan, ditambah gunungan dari Keraton Surakarta.

Bunyi terompet dan gendering diikuti dengan gamelan yang memainkan gending carabalen dan monggang, gunungan keluar dari Kamandungan. Setiap gunungan diikuti oleh prokoso (tukang angkut) dari masing-masing daerah.

Sebelum diberangkatkan menuju halaman Masjid Agung, Raja Surakarta Paku Buwono XIII Hangabehi melepas gunungan di depan Pendapa Sasana Sewaka. “Makna gunungan berpasang-pasangan itu merupakan suatu simbol dari lingga dan yoni, simbol laki-laki dan perempuan,” ungkap Kanjeng Pangeran Satryo Hadinagoro, Ketua Panitia Sekaten.

Satryo menjelaskan, arti gunungan sekaten itu merupakan sedekah dari raja kepada masyarakat. “Dulunya gunungan ini dibagi, tapi sekarang karena kondisinya berjubel ribuan pengunjung, akhirnya diperebutkan,” papar Satryo. (Anas Syahirul)


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kubu Hangabehi Gelar Upacara Minta Restu Ratu Kidul
Upaya mempertemukan Dua Raja Solo Gagal
Wiranto Pertemukan Dua Kubu di Kraton Solo
Raja-raja Mulai Berdatangan di Yogyakarta
PB XIII Temui Ketua DPR
Kirab Raja Baru Keraton Surakarta Dibatalkan
KGHP Tedjowulan Bertemu Gus Dur dan Taufik Kiemas
Keraton Surakarta Punya Dua Raja
Tukang Becak Solo Demo KGPH Hangebehi
Panitia Jumenengan Hangabehi Ancam Bongkar Paksa Ruang Penyimpanan Pusaka
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Jakarta Bakal Diguyur Hujan
Ford Naik Lima Peringkat di CSI
Tiga Perempuan Peneliti Raih Fellowship For Women in Science 2008
Indonesia “Juara”
Presiden Dukung Komisi Amandemen UUD 1945

<< April,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data