|
Di Solo, Seratusan Anak Dilacurkan
Kamis, 14 April 2005 | 14:55 WIB
TEMPO Interaktif, SOLO : Sedikitnya 117 anak di Solo selama 2004 diketahui menjadi bagian dari prostitusi terselubung. Mereka dilacurkan oleh keluarga atau orang-orang terdekatnya. Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo mencatat jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 24 anak. "Kenyataannya pasti jauh lebih besar karena ini fenomena gunung es," ujar Ketua PPK UNS Retno Setyowati kepada pers, Kamis (14/4).
Menurut Retno, dari hasil penelitian di lapangan selain anak-anak perempuan yang dilacurkan, juga terdapat 7 anak laki-laki. Mereka tersebar di berbagai kantong prostitusi di lima kecamatan di Solo. Dikatakannya, jumlah itu masih perkiraan berdasarkan
informasi dari kepolisian, kepala wilayah pengamen, dan mucikari. Beberapa penyebab masalah prostitusi anak-anak ini di antaranya karena kemiskinan, disharmoni keluarga, masyarakat yang permisive, kemudahan akses pornografi oleh anak, dan gaya hidup konsumtif
Kemiskinan keluarga, kata Retno, merupakan variabel pendorong terbesar yang mendorong anak terjerumus ke lembah prostitusi. Latar belakang keluarga miskin
membuat seorang anak harus turut menanggung beban ekonomi keluarga. Pada saat yang bersamaan, keluarga yang tidak harmonis serta perilaku orang tua yang jauh dari teladan membuat anak frustasi sehingga keluar dari rumah. "Biasanya anak pergi dari rumah, lalu
hidup di jalan, jadi pengamen, lama-lama terlibat prostitusi," katanya.
Anak-anak yang dilacurkan juga ada yang berasal dari keluarga kalangan menengah atas. Rata-rata mereka terlibat dalam dunia prostitusi karena gaya hidup konsumtif dan membuat anak terbiasa meraih keinginannya dengan cara instan. Ketika perekonomian tidak lagi mendukung, anak akan mencari cara untuk mendapatkan uang dengan mudah, yakni masuk lembah prostitusi.
"Apalagi lingkungan mereka juga mendukung, misalnya di sebuah kampung di Kecamatan Banjarsari saja ada 46 hotel dan motel, tempat praktek prostitusi terselubung,” kata Retno. Masyarakat sekitar juga permisif karena malah banyak penduduk yang menyewakan semacam paviliun untuk praktek prostitusi. imron rosyid
INDEKS BERITA LAINNYA :
|