Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jawa Tengah

Ribuan Burung Puyuh di Solo Mati
Rabu, 23 Maret 2005 | 13:22 WIB

TEMPO Interaktif, Solo: Ribuan burung puyuh di Kabupaten Boyolali mati tanpa sebab jelas. Ada dugaan ternak unggas milik kelompok Ngudi Makmur, Klego, Boyolali itu terkena penyakit flu burung atau avian influenza. Pemerintah setempat masih mengidentifikasi melalui uji laboratorium. "Kami belum berani mengatakan Boyolali terkena serangan flu burung sebelum mengetahui hasil laboratorium," kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, Djoko Waluyo kepada wartawan, Rabu (23/3).

Djoko mengatakan sebagian burung puyuh yang mati dibawa ke Balai Penyelidikan Penyakit Vitirenia (BPPV) Yogyakarta. Dia mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium tersebut. Dokter hewan ini menyatakan kematian sekitar lima persen populasi puyuh di Boyolali yang berjumlah sekitar 130.000 ekor itu bisa saja disebabkan penyakit lain dan pengaruh perubahan cuaca. "Tindakan cepat yang dilakukan untuk menghindari meluasnya kematian puyuh dengan penyemprotan dan pemberian vitamin di semua kelompok ternak," tukasnya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi mewabahnya flu
burung, Pemerintah Kota Solo menyediakan 400.000 vaksin AI serta ribuan liter desinfektan, karena wabah tersebut telah menyerang perbatasan Jabar dan Jateng. Wabah juga dikhawatirkan menyerang peternakan di Solo dan sekitarnya. "Vaksin AI dan desinfektan tersebut didistribusikan secara cuma-cuma kepada perternak,"
ujar Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan)
Kota Solo Sayono Amiradji.

Setahun silam, puluhan peternak unggas di Solo nyaris
gulung tikar akibat diguncang serangan penyakit ternak
yang memiliki gejala menyerupai AI. Penyakit itu
mematikan sekitar 30 ribu unggas di Solo. Peternak
yang paling banyak rugi adalah peternak unggas jenis puyuh. Mayoritas peternak di Solo merupakan pembiak puyuh. "Sampai sekarang belum ada laporan kematian unggas, tetapi kami harus mengantisipasi jauh-jauh hari, termasuk mengalokasikan dana pencegahan sebesar Rp 101 juta," tambah Sayono.

Pencegahan masuknya flu burung juga dilakukan dengan
pengawasan terhadap ternak unggas yang berasal dari
luar daerah. Unggas yang diperdagangkan dipastikan
tidak terinfeksi penyakit apapun. Tetapi sejauh ini,
Pemkot menyatakan belum melarang pengiriman ayam dari daerah yang sudah terkena wabah flu burung, seperti Jabar ataupun Jatim. "Hanya pengetatan saja," ujarnya.

Imron Rosyid


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Bogor Suntik 3,5 Juta Unggas
Dana Kompensasi Juga untuk Flu Burung
Sutiyoso: Hati Hati Mengkonsumsi Daging Ayam
Jakarta Utara Masih Aman Flu Burung
Nelayan Kepulauan Seribu Keluhkan Mahalnya Harga Solar
Tahun 2007, Indonesia Bebas Flu Burung
Flu Burung Belum Jangkiti Manusia
Flu Burung Kembali Mewabah, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan Diisolasi
Sukabumi Positif Terserang Flu Burung
Tangerang dan Jepang Bermitra Ciptakan Vaksin Flu Burung
> selengkapnya...


Referensi

Flu Burung
Kepres RI No. 12 Thn.1994 Tentang Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional
UU RI No.23 Thn.1992 Tentang Kesehatan

Website

Departemen Kesehatan


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Kertas Suara Pemilhan Umum Akan Berbentuk Memanjang
Departemen Pendidikan Anggarkan Rp 25 Miliar untuk Beli Jurnal
KPU Banten Pusing Ladeni Dua PKB
John Roosa Berharap Bukunya Tak Dilarang
Persib Diizinkan Berlaga Kandang Dihadiri Bobotoh

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data