|
Jawa Madura
Minyak Tanah Langka di Yogyakarta
Rabu, 16 Maret 2005 | 20:35 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kelangkaan minyak tanah mulai melanda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sejumlah pusat penjualan minyak tanah kehabisan persediaan karena diserbu pembeli. Operasi pasar yang digelar Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi DIY di dua lokasi, hari ini, habis diserbu masyarakat dalam dua jam.
Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi kemarin menggelar operasi pasar minyak tanah di Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, dan Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta. Operasi pasar dengan mengerahkan truk tangki berkapasits 5.000 liter di setiap lokasi itu habis diserbu warga, kurang dari dua jam.
"Setiap pembeli hanya dijatah maksimal 10 liter. Itu pun harus antri panjang dan menukarkan uang dengan kartu terlebih dahulu,” kata Pradito, warga Jetis, Yogyakarta.
Menurut dia, harga minyak tanah dalam operasi pasar itu Rp 900 per liter, sedang harga eceran di atas Rp 1.000 per liter. “Dengan 10 liter minyak tanah, paling hanya untuk keperluan selama tiga hari," ujarnya.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi DIY Syahbenol mengatakan, operasi pasar minyak dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga minyak
tanah di masyarakat. Operasi pasar ini, kata dia, dilakukan karena permintaan masyarakat setelah mereka mengalami kesulitan mendapatkan minyak tanah.
Menurut Syahbenol, operasi pasar itu dilakukan bekerja sama dengan Pertamina dan Hiswana Migas (Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas). Setiap lokasi diterjunkan satu truk tangki berisi 5.000 liter dengan harga Rp 890 per liter.
Pengurus Hiswana Migas DIY Widiyarto mengatakan, hingga saat ini pihaknya telah menggelar enam kali operasi pasar khusus minyak tanah untuk mengatasi kelangkaan. Menurut dia, kelangkaan terjadi karena tingginya kebutuhan minyak tanah di masyarakat. "Kalau di tingkat agen atau pangkalan, saya yakin tidak ada penimbunan, sebab sanksinya tegas, bisa diputus hubungan kerjasamanya," dia beralasan.
Kelangkaan minyak tanah juga terjadi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Akibatnya, harga minyak tanah melambung hingga Rp 1.600 per liter. “Minyak tanah sekarang harganya sudah sangat tinggi, Rp 1.600 per liter,” tutur Sukijah, warga Haurgeulis, Indramayu. Harga tersebut melampaui harga eceran tertinggi di daerah tersebut, yaitu Rp 940 per liter.
Selain di Kecamatan Haurgeulis, kenaikan minyak tanah juga terjadi di Kecamatan Balongan. Padahal, di daerah ini terdapat Pertamina Unit Pemasaran VI Balongan. Di Balongan harga minyak tanah Rp 1.500 per liter, sementara harga eceran tertinggi daerah ini Rp 875 per liter.
Kenaikan harga minyak tanah terjadi di sejumlah daerah sejak pemerintah menaikkan harga premium dan solar mulai 1 Maret lalu. Kenaikan harga bahan bakar ini menimbulkan protes berbagai kalangan. Hari ini, aksi protes harga minyak terjadi di Bandung, Malang, dan Lhokseumawe. (Syaiful Amin/Ivansyah/Rana/Bibin/Imran MA)
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Nelayan tradisional Muara Angke sedang mengisi solar ke dalam kapal yang akan dipakai berlayar, Jakarta, 22 Mei 2001. [TEMPO/ Awaluddin R.; 32D/346/2001; 20010621].
<br>
Dimuat majalah TEMPO 20010902-122](/hg/photostock/2005/03/10/s_32D34601_high_thumb.jpg) |
![Pembeli solar di pompa bensin/ SPBU 34-0134 Muara Angke, Jakarta, 22 Mei 2001 [TEMPO/ Awaluddin R.;32D/347/2001; 20010621].](/hg/photostock/2005/03/10/s_32D34705_high_thumb.jpg) |
| Nelayan Mengisi BBM Solar ke Kapal
|
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|