Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Usul Pilraja Kasunanan Surakarta Sulit Diwujudkan
Minggu, 13 Maret 2005 | 18:32 WIB

TEMPO Interaktif, SOLO:Usul pemilihan raja secara langsung yang dikemukakan Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif guna menyelesaikan kemelut di Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mendapatkan tanggapan yang beragam. Pada umumnya pemilihan raja yang dibarengkan dengan Pilkada tersebut diragukan bisa diwujudkan.

Beberapa kalangan juga meragukan pemilihan raja bisa diwujudkan. "Memangnya pemerintah tidak memiliki pekerjaan lain kok mengurus keraton begitu hebat. Biayanya darimana?" ujar Hasni Abdullah, pedagang di Pasar Klewer, Solo, Minggu (13/3).

Hasni mengakui keraton sebagai simbol kebudayaan masyarakat Jawa. Usul pemilihan raja secara langsung dikhawatirkan menghilangkan roh keraton yang sejak dulu dan di manapun bercorak aristrokrasi serta kepemilikannya bersifat turun temurun. "Lebih baik
pemerintah mengupayakan kedua kubu itu duduk satu meja, selama ini belum ada yang mampu mempertemukannya," kata dia.

Parwito, seorang pedagang kaki lima di Alun-Alun Utara Solo berpendapat senada.
Menurutnya, untuk menjadi raja seseorang harus memperoleh pulung (wahyu). "Wahyu itu kan tidak dipilih, justru wahyu yang memilih. Para calon raja zaman dulu selalu lelaku nepi (bertapa) mencari wahyu," ujarnya.

Namun, KRT. Wartodipuro, abdi dalem keraton yang memilih menyingkir selama konflik justru menerima usul itu. Hanya, pemilihan raja sangat tergantung pada 35 putra-putri PB XII yang kini menjadi dua kubu bertikai. "Legitimasi dan legalitas kultural bisa berubah sesuai perkembangan masyarakat. Kalau putra-putri PB XII setuju pemilihan raja, tidak ada bisa menolak. Wong mereka kan pewaris sahnya, hanya ketika menyangkut soal person yang kemudian menjadi masalah," kata dia. Ia mengusulkan, peserta pemilihan adalah kalangan istana, tidak perlu melibatkan masyakarat umum. imron rosyid


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Jalur Selatan Kereta Api Normal Kembali
Kecil Kemungkinan Beda Awal Puasa dan Lebaran
Tunai Rp 1 Milyar Bagi Peraih Emas Olimpiade
Amrozy cs Dikunjungi Kerabat
Mahasiswa Kediri Demo Tuntut Pengusutan Dana Hibah Persik

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data