|
Jawa Tengah
Enam Mahasiswa Kudus Bertahan Mogok Makan
Minggu, 06 Maret 2005 | 01:09 WIB
TEMPO Interaktif, Kudus: Syaikur Rohman, 23 tahun, mahasiswa semester 10 jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Kudus, Jawa Tengah, sudah tiga hari tergolek di ruang Flamboyan kamar 17 Rumah Sakit Umum Swadana Kudus. Tubuhnya diberi masukan cairan infus. Selama ia dirawat, Syaikur tetap menolak makan yang diberikan perawat. "Saya tetap konsisten, sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendengarkan aspirasi kami, saya tetap mogok makan," ucap Syaikur lemah.
Syaikur Rohman dilarikan ke rumah sakit, Jumat siang (4/3) setelah salat Jumat. Ia tampak lunglai, pandangannya menerawang kosong.
Dia dan beberapa temannya Martoyo, MA Chomzin, dan Noor Chafidz, melakukan aksi mogok makan di dalam tenda gunung berukuran 1,5 x 1,5 meter persegi sejak 1 Maret, untuk memrotes kenaikan harga bahan bakar minyak. Lalu, menyusul Hamid dan Ismanysah, ikut mogok makan.
Keenam mahasiswa STAIN Kudus yang bergabung dalam HMI Cabang Kudus ini, melakukan mogok makan di trotoar Alun alun Simpang Tujuh, tepat di depan Kantor Bupati Kudus. Siang dan malam, meskipun hujan turun sangat lebat dan angin kencang, mereka tetap bertahan di tenda.
Bila hujan reda, mereka memilih di luar tenda. Roman mereka lusuh. Jika sudah terasa suntuk mereka hanya tiduran di atas tikar kecil yang digelar dalam tenda. Mereka juga tidak menyiapkan pakaian pengganti, kecuali celana panjang, baju dan jaket yang sudah melekat. Di luar tenda, banyak spanduk dan poster yang bertuliskan protes kenaikan harga BBM.
"Kami hanya meninggalkan tenda jika waktu salat tiba," ucap Chomzin, yang juga Ketua HMI Cabang Kudus.
Kondisi tubuh mereka tampak mulai melemah. Tim medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, yang dipimpin dokter Rosye, Jumat pagi, ikut menyambangi mereka. Keenam pemogok makan itu satu persatu diperiksa kesehatannya. "Kondisi kesehatan mereka mulai mengkhawatirkan. Akibat dehidrasi," ucap dokter Rosye.
Menurut dokter Rosye, dari keenam mahasiswa itu yang paling mengkhawatirkan adalah Syaikur karena ia juga mengindap hepatitis. Sedangkan Ahmad Hamid Abadi, yang baru bergabung mulai Kamis (3/3), mengeluhkan tenggorokannya kaku dan sakit. Sedangkan Martoyo, Sabtu (5/3) pagi setelah salat subuh terpaksa harus tiduran di Masjid Agung Simpang Tujuh, ditunggui teman- temannya, karena perutnya sakit dan mual- mual, serta deman.
Jumat pagi, sebelum Syaikur dilarikan ke rumah sakit, ia dibujuk dokter Rosye agar mau dirawat di rumah sakit. Tapi, ia menolak dengan alasan masih kuat bertahan.
Hasil pemeriksaan dokter Rosye, kondisi kesehatan mereka menurun. Tekanan darah mereka drop dan terkena dehidrasi, sehingga mereka sering pusing dan kaki linu jika berjalan.
Tindakan para pemogok makan ini sempat mengundang perhatian Kabid Umum Polda Jateng Kombes Untung, Kisbanglimas Pemkab Kudus Amin Rahmad dan aparat kepolisian Polres Kudus. Meski Kombes Untung menasihati agar tindakan mereka diakhiri, tapi mereka bergeming. "Langkah kami ini sebagai bentuk akumulasi penderitaan rakyat. Sejauh aspirasi rakyat tidak didengar, kami tetap mogok makan," tekad Chomzin.
Tindakan Chomzin dan kawan kawan ini merupakan kelanjutan serangkaian protes yang dilakukan puluhan mahasiswa asal Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN ) dan Universitas Muria Kudus, 1 Maret lalu. "Kami mendesak 1 Maret 2005 sebagai Hari Keprihatinan Nasional," ucap Chomzin. Tuntutan itu, kata Chomzin, sudah disampaikan kepada Bupati Tamzil untuk diteruskan ke Presiden.
Bandelan
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|