|
Provinsi Banten
Harga Solar Mahal Nelayan Banten Tak Malaut
Rabu, 02 Maret 2005 | 14:10 WIB
TEMPO Interaktif, Serang: Harga bahan bakar solar Rp 2.400 per liter dari semula Rp 1.650 membuat nelayan di Serang, Banten, terpaksa tak melaut. Mereka duduk-duduk di sekitar kapal yang diparkir berderet rapi di Pelabuhan Karangantu.
Di antara nelayan, menghabiskan waktunya dengan bermain catur. Ada yang menyibukkan diri dengan menjahit jaring, sementara lain tertidur pulas. Nelayan ini mengaku tak mungkin lagi melaut karena biaya operasional kapal, terutama solar, tak terjangkau.
"Kalaupun terpaksa melaut, bukannya untung, tapi rugi. Tenaga terkuras habis percuma dan utang kepada juragan semakin menumpuk," ungkap Daeng Nabba, 48 tahun, salah satu nelayan yang ditemui di Karangantu.
Pengeluaran biaya bahan bakar sebelum BBM naik, sekitar Rp 7 juta untuk 20 ton solar. Sementara dengan harga solar Rp 2.400 per liter, pengeluaran untuk 20 ton solar mencapai Rp 52 juta.
Kapal ikan berukuran sekitar 20 GT yang dia operasikan, solar yang dibutuhkan sebanyak 20-30 ton sekali melaut dengan jangka waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan.
Belum lagi biaya hidup 10 awak kapal selama di tengah laut mulai beras, rokok sampai minyak tanah. Belum lagi es balok untuk pendingin ikan hasing tangkapan. "Diluar belanja solar, kami harus punya uang Rp 20 juta," katanya.
Meski biaya operasional ditanggung majikan, kata dia, itu dulu. "Sekarang siapa juragan yang berani menanggung biaya melaut sebesar itu. Risikonya sangat besar karena biaya operasional tidak sebanding dengan perolehan ikan," papar Nabba.
Hasil tangkapan ikan sekitar 10 ton, pun jika dijual di pelelangan belum menyentuh angka operasional. "Kami mendapat uang dari pelelangan ikan sekitar Rp 50 juta Karena itu majikan pemilik kapal membiarkan kapalnya menganggur," katanya.
Faidil Akbar-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|