|
Yogyakarta
Yogyakarta Bina 35 Desa Budaya
Rabu, 23 Pebruari 2005 | 15:30 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta sedang menggalakkan pembinaan terhadap 35 desa budaya. Pembinaan ini sebagai bagian dari upaya membuat Yogyakarta sebagai kota budaya pada tahun 2020.
"Kami berusaha mengembangkan kebudayaan tradisional di 35 desa itu," kata Kepala Seksi Kesenian Bidang Pengembangan Kebudayaan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Hartono, Rabu (23/2), di kantornya, Yogyakarta.
Hartono menerangkan, Gubernur Sultan Hamengkubuwono X telah mengeluarkan surat keputusan tentang pembinaan desa-desa yang berada di empat kabupaten itu. Rinciannya, 7 desa di Kabupaten Sleman, 6 desa di Kabupaten Bantul, 12 desa di Kabupaten Kulonprogo, dan 11 desa di Kabupaten Gunungkidul.
"Masing-masing desa melaporkan jenis kesenian tradisional yang ada di daerahnya, dan datanya saat ini sedang kami olah," katanya. Dinas Kebudayaan pun telah mengumpulkan lurah ke 35 desa itu.
Berbagai kesenian yang ada di desa-desa itu antara lain seni tari Jathilan, Kobrosiswo, Reog, Ande-ande Lumut, Incling, Srandul, Oglek, dan Dolalak. Sedangkan untuk jenis seni musik antara lain Samroh, Qasidah, Salawatan, Karawitan, dan Kroncong, serta Bambu. "Kesenian tradisional semacam ini punya daya tarik tersendiri," ujar Hartono.
Sejauh ini, perkembangan seni tradisional di Yogyakarta masih naik turun. "Tidak ajeg. Kadang-kadang ramai, kadang sepi," ucapnya.
Hartono mengaku, Dinas Kebudayaan senantiasa berusaha menggairahkan seni budaya tradisional dengan mengadakan festival-festival seni tradisional setiap tahun di Taman Budaya Yogyakarta. Selain itu, juga sering diadakan perlombaan-perlombaan seni. "Kami terus memancing para seniman Yogya agar tidak kehilangan kreasinya," katanya menjelaskan.
Putri Alfarini
INDEKS BERITA LAINNYA :
|