|
Nusa
Mandala Air Tergelincir, 92 Penumpang Selamat
Jum'at, 11 Pebruari 2005 | 00:22 WIB
TEMPO Interaktif, Semarang: Diduga karena faktor cuaca buruk, pesawat Mandala PK RIJ 296 Jakarta-Semarang tergelincir hingga ujung landasan Bandara Ahmad Yani. Kecelakaan ini terjadi Jumat (11/2) pukul 17.27 ketika Semarang dilanda hujan deras.
Menurut Purnomo, Kepala Cabang Angkasa Pura I Semarang pesawat yang membawa 92 penumpang itu mendarat dengan baik meski cuaca sedang buruk dan landasan basah dan licin. ?Ketika mendarat hingga ujung pertengahan landasan sudah selip sehingga tak bisa dihentikan dengan cepat,? kata Purnomo saat konferensi pers.
Akibatnya, nose wheel terbenam ditanah dan main wheel juga menempel di tanah karena rodah patah. Purnomo mengatakan bahwa pesawat mendarat di ujung landasan runaway 13 ke arah timur. Dari pantauan Tempo di tempat kejadian, posisi pesawat tergelincir dari lampu yang menjadi batas ujung landasan kurang lebih 50 meter. Roda depan menggaruk tanah dari sejak ujung aspal hingga 30 meteran di dekat parit yang hanya berjarak 5 meter. Sementara roda samping terlihat patah sehingga mesin utama disamping itu menempel tanah.
Semua penumpang yang berjumlah 92 orang menurut keterangan Purnomo selamat, meski ada dua penumpang yang sakit sejak dari Jakarta. Dua orang crew, pilot Kapten Slamet Riyadi dan copilot Iskandar Patait, empat pramugari dan 2 mekanik juga selamat. Mereka dievakuasi dengan mobil bandara, mobil Mandala begitu pesawat mendapat kecelakaan.
Dijelaskan Purnomo, tiga penerbangan dari Jakarta dan Surabaya serta penerbangan yang akan keluar dari Bandara Ahmad Yani ditunda. Untuk sementara bandara ditutup bagi semua penerbangan sampai waktu yang belum ditentukan. Untuk meneliti penyebab tergelincirnya pesawat, tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Jumat malam ini segera menuju Semarang menggunakan kereta api.
?Kami menunggu tim KNKT dulu baru mengevakuasi pesawat untuk meneliti penyebabnya. Oleh karena itu, bandara masih ditutup dulu,? tegas Purnomo.
Sementara itu menurut keterangan dua orang penumpang yang mengalami kejadian itu, sepuluh menit sebelum pendaratan crew pesawat mengingatkan untuk mengencangkan sabuk pengaman.
Namun begitu pesawat menyentuh tanah pertama kali, pesawat dirasakan oleng. ? Kami disuruh mengencangkan sabuk pengaman karena cuaca buruk. Tapi begitu mendarat , pas ngerem pertama itu pesawat sudah agak oleng dan terus melaju kencang,? kata Yudha Irawan, salah seorang penumpang yang duduk di kursi 6D.
Dia bersama Afifah yang duduk di kursi 6E pada pengereman kedua, dari kaca melihat ada asap keluar dari rem. Baru setelah berhasil di rem, pesawat sudah berada di dekat parit.
Afifah juga menuturkan saat diminta mengencangkan sabuk, para penumpang sudah mulai panik namun berhasil ditenangkan oleh pramugari. ?Goncangannya keras, Nah pas mau keluar itu juga semua beebut keluar. Pintu darurat sempat dibuka tapi kami akhirnya keluar lewat pintu belakang,? tutur Afifah yang sempat membayangkan kecelakaan ini seperti Lion Air yang lalu.
Mereka berdua menyayangkan tindakan maskapai yang tidak memberikan pemberitahuan lanjutan setelah kejadian itu. Setelah kejadian itu, dari kejauhan terlihat beberapa mobil pemadam berjaga-jaga di dekat pesawat. Beberapa ambulan pun terlihat di datangkan ke lokasi. Wartawan sempat diusir petugas TNI untuk mengambil gambar dari kejauhan. Beberapa wartawan mencoba mencari lokasi mengambil gambar dan mengetahui posisi pesawat yang lebih dekat namun diancam dengan kokangan senjata oleh mereka.
Dian Yuliastuti-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Beberapa petugas dari kepolisian dibantu masyarakat mengangkut rongsokan pesawat latih mini PK-SKB yang jatuh dekat pintu tol Cililitan, Jakarta, 20 Juli 2002. Peristiwa ini menewaskan pilot Brigjen Pol. Bakat Poerwanto dan melukai tiga orang lainnya. [TEMPO/ Yusnirsyah Sirin; K8A/477/2002; 20020723]](/hg/photostock/2004/12/28/s_K8A47704_high_thumb.jpg) |
![Beberapa petugas dari kepolisian dibantu masyarakat mengangkut rongsokan pesawat latih mini PK-SKB yang jatuh di dekat pintu tol Cililitan, Jakarta, 20 Juli 2002. Peristiwa ini menewaskan pilot Brigjen Pol. Bakat Poerwanto dan melukai tiga orang lainnya. [TEMPO/ Yusnirsyah Sirin; K8A/477/2002; 20020723]](/hg/photostock/2004/12/28/s_K8A47706_high_thumb.jpg) |
| Peristiwa Jatuhnya Pesawat Latih Mini
|
|
| Peristiwa Jatuhnya Pesawat Latih Mini
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|