|
Jawa Tengah
Gus Dur Ancam Keluar Dari NU
Minggu, 28 November 2004 | 14:54 WIB
TEMPO Interaktif, Solo: Mantan Ketua Umum PBNU, KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) mengancam akan keluar dari NU jika Hasyim Muzadi terpilih kembali sebagai Ketua Umum dalam Muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Donohudan, Solo. Selain itu, Gus Dur juga mengancam akan membentuk NU baru dengan nama, Nahdlatul Alim Ulama (NAU) atau Jam'iyah Kebangkitan Bangsa (JKB). Penegasan Gus Dur itu disampaikan dalam jumpa pers di hotel Lor In, Solo, Minggu (28/11).
Gus Dur mengatakan kini kubu Hasyim sedang membuat skenario mengganjal dirinya menjadi calon Rois Aam. Skenario itu dirumuskan dalam tata tertib (tatib) pemilihan yang dibuat oleh tim Hasyim di Jakarta. Dalam rumusan itu disebutkan calon Rois Aam dan Tansidz tak boleh aktif di partai politik. "Kalau orang luar tak boleh jadi calon, kenapa Hasyim menjadi calon wakil presiden. Podho-podho politike. Mana mungkin calon wakil presiden tak berpolitik, tak mungkin," kata Gus Dur dengan suara meninggi.
Pembahasan tatib itu, lanjut Gus Dur, merupakan hal yang paling krusial dalam muktamar. Kubu Hasyim mempertahankan rumusan tatib dari Muktamar Lirboyo, sedangkan kubu Gus Dur mengusulkan materi tatib dari muktamar Cipasung. Tatib yang dipakai itu menurut Gus Dur memang sengaja untuk menghalangi dirinya menjadi calon. "Wong kalah kok ganjal orang," ungkapnya didampingi pamannya, KH Yusuf Hasyim.
Karena itu, tambah Gus Dur, jika dirinya terganjal oleh tatib dirinya tidak akan mendukung siapapun untuk maju. "Saya akan membentuk NU baru. Saya tak akan mendukung siapa-siapa," tegasnya. Gus Dur yakin, NAU atau JKB akan menjadi ormas terbesar dan akan dipilih oleh rakyat.
Meski pamannya, KH Sahal Mahsud mengatakan, organisasi alternatif itu tidak mungkin. "Saya akan bilang ketokan driji (potong jari). Ayo mana yang diikuti orang. Gitu aja sudah, gak usah ribut-ribut. Masak saya debat dengan Kyai Sahal paman sendiri," tandasnya. Para pengurus NU baru itu, kata Gus Dur, terdiri dari para kiai sepuh, warga NU, kaum profesional dan pengurus NU sekarang yang masih ikhlas. Gus Dur akan membuat edaran ke seluruh NU se-Indonesia apakah akan ikut NU atau di luar NU.
Gus Dur mengakui, sikapnya dalam muktamar ini sebagai sikap politik. Sehingga jika Gus Dur mendirikan NU alternatif dan diikuti oleh 90 persen rakyat dari warga NU, akan bisa dilihat dalam pemilu 5 tahun mendatang. "Saya yakin akan menang," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Dur kembali menegaskan secara pribadi dirinya tak ingin mencalonkan diri sebagai Rois Aam, karena posisi itu sebenarnya harus diisi oleh orang ahli fiqih. "Saya baru ngaji enam kitab, Kiai Sahalsudah tiga puluh tujuh kitab. Beliau itu kan ahli fiqih. Saya cukup wakil Rois Aam. Ya sudah saya jalani. Dari awal sudah begitu. Saya dengar Kiai Sahal tak bersedia kalau saya jadi wakil Rois Aam, katanya saya kebanteran, gak kuat, ya sudah," katanya dengan suara menurun.
Adi Mawardi - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|