Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jawa Tengah

Masdar Mas'udi: People Power Di NU Bisa Ambil Alih Kekuasaan
Minggu, 28 November 2004 | 13:21 WIB

TEMPO Interaktif, Boyolali: Para pemilik suara dalam Muktamar NU ke 31 diingatkan untuk tidak mengulang peristiwa yang menimpa mantan Presiden Soeharto pada 1997. Saat Sidang Umum MPR waktu itu, secara aklamasi MPR memilih kembali Soeharto sebagai presiden RI. Namun tidak berapa lama, kekuatan rakyat melibasnya. Jika Muktamar NU ke-31 memilih kembali Hasyim Muzadi, penggulingan kekuasaan dengan people power warga nahdliyin sangat mungkin terjadi.

Demikian dikatakan pengurus harian dewan tanfidz PBNU Masdar Farid Mas?udi saat ditemui di sela-sela acara Mukmatar di asarama haji Donohudan Boyolali Surakarta, Minggu (28/11).

Dikatakan Masdar, pemilik kedaulatan dan pemegang saham dalam NU adalah para kiai dan warga nahdliyin. Sementara itu, para pengurus baik di PBNU hingga tingkat cabang, adalah pemegang mandat yang harus menjalankan aspirasi para kiai dan warga nahdliyin. Pengurus, kata Masdar, bukan segala-segalanya tanpa legitimasi dari kiai dan warga nahdliyin.

Saat ini, kata Masdar, memang terjadi dikotomi di tubuh NU antara struktural dan NU kultural. Mayoritas NU struktural, kata Masdar, hingga saat ini masih solid mendukung Hasyim Muzadi untuk terpilih lagi sebagai Ketua Umum PBNU. Sedangkan NU kultural, kata dia, justru tidak menghendaki naiknya Hasyim karena dinilai telah memecah belah NU.

"NU kultural jelas mempunyai kekuatan riil. Jika aspirasi kekuatan NU kultural diabaikan, akan terjadi chaos. Ancaman para kiai untuk mendirikan NU tandingan tidak mustahil akan menjadi kenyataan. Saya memang pengurus di PBNU tetapi saya berada dalam barisan kekuatan kultural itu," kata Masdar.

Menurut Masdar, penolakan kekuatan NU kultural terhadap terpilihnya Hasyim Muzadi sebagai dampak politisasi NU pasca pemilihan presiden. Dukungan para pengurus NU baik di tingkat wilayah maupun cabang terhadap Hasyim Muzadi, kata dia, tidak lain adalah untuk kepentingan politik pribadi.

"Pengurus cabang tetap mendukung Hasyim, harapannya kan mereka bisa maju sebagai bupati atau wakil bupati. Sementara yang pengurus tingkat wilayah bisa maju sebagai gubernur atau wakil gubernur. Jadi memang sekarang ini ada tarikan yang kuat untuk menjadi NU sebagai intrumen politik," kata Masdar.

Syaiful Amin - Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kiai Sepuh Pendukung Hasyim Muzadi Konsolidasi
Demo Anti Hasyim Warnai Pembukaan Muktamar NU
Presiden Serahkan Keputusan Pada Peserta Muktamar
KH MA Sahal Mahfud: NU Harus Kembali Ke Politik Kebangsaan
Presiden Buka Muktamar NU Ke-31
Gus Dur Aksi Protes Jalan Kaki
Ketua PBNU Harus tidak Mewakili Antagonisme Politik
Kaum Muda NU Gelar Muktamar 'Tandingan'
Hasyim Muzadi: Saya Tidak Ada Masalah dengan Gus Dur
Lirboyo Dukung Hasyim Muzadi Sebagai Ketum NU
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data