Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Feature

Tak Kuat Bayar Denda PLN, Ronji Bunuh Diri
Rabu, 24 November 2004 | 16:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jepara:Tenda terpal (tratak) untuk penahan hujan itu masih terpasang di depan rumah sederhana berdinding kayu mahoni berukuran 8 x 4 meter. Ny Tasri,25 tahun, di bawah tratak itu rencananya digunakan selama tujuh hari untuk acara tahlilan. Pada hari Rabu siang (24/11), Ny Tasri duduk di kursi plastik di bawah tratak dengan mata bersembab, dengan mengapit seorang putri tunggalnya, Fitri, 8 tahun. “Kami sedang tertimpa musibah,”katanya.

Suasana duka masih menyelimuti keluarga warga Dukuh Puru, Desa Mindahan, Jepara, Jawa Tengah itu. Baru dua hari lalu, suaminya, Moh Ronji, 27 tahun, meninggalkan keluarganya secara mendadak. Tragisnya perpisahan itu dilakukan Ronji dengan cara menggantung diri di ruang tamu rumahnya, melalui seutas tali plastik yang diikatkan dengan kayu blandar. Padahal, sehari sebelumnya, tanda- tanda untuk berpisah dengan keluarganya, sama sekali tidak terlihat. Bahkan, Ia bersama istri dan putrinya, pergi menonton acara Lomba Kupatan di Pantai Kartini Jepara hingga sore hari.

Moh Ronji selama ini dikenal sebagai orang pendiam. Selepas sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri Bawu, ia memilih membantu orangtuanya, Nasihin, sebagai pengrajin ukir kayu. Setelah berangkat dewasa, Ronji menikahi Tasri, yang guru Taman Pendidikan Qur’an di desanya dan dikaruniai seorang putri. Dengan dibantu orangtuanya, Ronji mendirikan rumah sederhana dari kayu mahoni ukuran 8 x 4 meter, lantai tanah liat dengan perabot rumah sederhana.

Di ruang tamu tampak sebuah pesawat televisi yang letaknya persis di bawah kayu blandar tempat ia menggantung diri. Hanya sekat papan yang memisahkan ruang tamu, kamar tidur dan dapur. Di belakang rumah, terdapat gudang kecil tempat menyimpan peralatan pertukangan dan seonggok tumpukan kayu yang belum diberesi. Menurut Tasri, di tempat itulah suaminya Ronji bekerja sebagai tukang natah kayu membuat lemari laci untuk tempat arsip atau dokumen perkantoran, bersama ayahnya Nasihin dan adiknya Ahmad Arief.

Untuk keperluan rumah tangganya, Ronji hanya mampu memiliki saluran listrik sebesar 450 watt. Namun, karena aliran listrik itu juga digunakan untuk menggerakkan alat pertukangannya, seperti mesin ketam dan gergaji. Listrik yang hanya 450 watt itu tak kuat, dan sering mati. Untuk memenuhi kebutuhan itu kemudian Ronji dibantu adiknya, Ahmad Arief (24), mencuri setrum aliran listrik.

Awalnya pada beberapa bulan, aman- aman saja. Tapi setelah berlangsung sekitar enam bulan, listrik curian itu ketahuan PLN juga. Setelah dilakukan perhitungan, Ronji terkena denda Rp 3 juta. Sebelum denda dibayar, aliran listrik diputus. Menurut Manajer Unit Pelayanan Jaringan PLN Jepara, Sudarwo, hal itu sudah menjadi aturan PLN. “PLN tidak ada kebijaksanaan bagi pelanggar penggunaan arus listrik,”kata Sudarwo.

Keputusan PLN itu, sempat membuat Ronji gelisah. Sebab selain sepi pesanan, ia tidak memiliki tabungan. Sebenarnya Ronji sudah berusaha mencari pinjaman uang ke pihak pemesan barang, tapi upaya itu buntu. Sayangnya, semua persoalan itu ia pendam sendiri, dan tidak pernah dibicarakan dengan istrinya maupun keluarga yang lain. Ronji lebih memilih jalannya sendiri untuk berpisah dengan keluarganya.

Menurut Kapolsek Batealit, Ajun Komisaris Heri Jatmiko saat memeriksa keluarga korban, mengetahui korban sedang dihimpit masalah ekonomi. “Tidak ada motif pembunuhan. Korban karena terhimpit masalah ekonomi,”ujar Heri Jatmiko.

Fitri, sang putri yang masih duduk di kelas 3 SD ini, hanya bisa menerawang. Ia tak mau jauh dengan sang ibunya. Sebab, Fitri-lah orang pertama melihat Ronji tergantung dan lidahnya menjulur ke luar, dan kemudian berteriak memanggil Tasri. “Saya takut,”ujar Fitri dengan matanya berkaca- kaca. Entah sampai kapan Fitri bisa menghilangkan trauma terhadap apa yang dilihatnya?

“Saya sungguh sedih melihat Fitri. Tapi sebagai seorang ibu, saya berusaha membesarkan hatinya. Sampai ia mau sekolah lagi,” ucap Tasri.

Bandelan Amarudin

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Putusan UU Tenaga Listrik dan Migas Ditunda
Presiden Ajak Swasta Bangun Listrik Di Indonesia
Tunggakan Listrik di Surakarta Capai Rp 15 Milyar
Pasokan BBM dan Listrik Aman Hingga Akhir Tahun
Tunggakan Rekening PLN Jateng/DIY, Rp 148 Miliar Lebih
Pemkot Palu Bangun PLTU
Sumatera Selatan Bakal Jadi Lumbung Energi
Pasien RSPP Terjun dari Lantai Tujuh
PLN Membeli Listrik Produksi PT Riau Power
PLN Didenda Rp 10 Miliar
> selengkapnya...


Website

PT PLN (Persero)


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Di Cipete, Tembok Apartemen Runtuh
Nur Ahmadi, Dinasti Ketiga Perajin Gerabah
Terbakar, Ratusan Hektar Hutan di Jawa Timur
Sedimentasi Parah di Delapan Bendungan Jawa Timur
Subsidi Listrik 2009 Diusulkan Rp 60,43 Triliun

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data