|
Jawa Madura
Perantau Wonogiri Sumbang Miliaran Rupiah ke Daerahnya
Minggu, 21 November 2004 | 21:25 WIB
TEMPO Interaktif, Solo:Para perantau dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, menyumbang miliaran rupih untuk daerah asalnya. Selain kiriman uang dan barang kepada keluarga mereka, sumbangan itu juga diwujudkan dalam proyek-proyek swadana.
"Secara langsung memang warga yang boro (merantau) tidak memberikan sumbangan ke pemerintah daerah, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau mereka menjadi motor proyek-proyek swadana di Wonogiri. Banyak sekali jalan yang diaspal sendiri oleh para perantau," kata Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi, Minggu (21/11) petang.
Menurut Begug, dari jumlah penduduk Wonogiri sebanyak 1.106.418 jiwa, tercatat 110.404 orang atau hampir 10 persen menjadi perantau. Setiap tahun, mereka mengirimkan uang kepada sanak saudaranya sekitar Rp 5 miliar. "Itu yang terpantau karena dikirim melalui wesel. Kalau yang dibawa langsung saat mudik dan melalui transfer rekening bank jumlahnya bisa dua kali lipat," Begug mengungkapkan.
Bila setiap perantau membawa uang Rp 500 ribu ketika mudik Lebaran, uang yang masuk ke daerah tandus ini mencapai Rp 55,2 miliar lebih. Jumlah itu bukan sedikit bagi Kabupaten Wonogiri yang pendapatan asli daerahnya pada 2003 hanya Rp 36 miliar.
"Keberadaan warga yang boro itu secara tidak langsung membantu pemerintah. Mereka membawa uang yang jumlahnya sedemikian besar dan kemudian dibelanjakan di daerah asalnya, itu kan artinya membuat perputaran uang tidak hanya terpusat di Jakarta," kata Begug. Karena itu, Bupati Wonogiri menyatakan tidak bisa mencegah, apalagi melarang warganya yang mudik, membawah keluarga atau teman saat kembali ke Jakarta.
Menurut Begug, warganya yang merantau ke Jakarta tidak akan menyusahkan Pemerintah Provinsi DKI karena hampir seluruh perantau dari daerahnya bekerja di sektor informal. Para perantau dari Wonogiri memilih berjualan bakso atau mie ayam, menjadi tukang batu, serta jualan jamu gendong. "Jadi ndak benar kalau perantau dari Wonogiri itu menyusahkan DKI Jakarta. Warga kami justru menciptakan lapangan pekerjaan sendiri."
Sebagai daerah tandus dan menjadi langganan kekeringan, langkah warga Wonogiri untuk merantau dinilai sebagai sebuah pilihan yang rasional. Orang Wonogiri, kata Begug, dikenal sebagai orang yang tidak mengenal lelah dan akan menekuni apa pun yang menjadi bidang usahahnya. (Imron Rosyid)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|