|
Jawa Madura
Surabaya Akan Kebanjiran 150 Ribu Pendatang
Rabu, 17 November 2004 | 05:46 WIB
TEMPO Interaktif, Surabaya:Kota Surabaya yang kini berpenduduk 3 juta orang, sudah jenuh dengan pendatang baru. Namun, pasca Lebaran tahun ini, diperkirakan ada sekitar 8-10 persen penambahan penduduk baru. "Pasca Lebaran ini akan ada penambahan penduduk baru sekitar 100 ribu sampai 150 ribu penduduk ke kota Surabaya," kata Kresnayana Yahya, dosen statistik Institut Teknologi 10 November Surabaya, Selasa (16/10).
Menurut Kresnayana, penambahan penduduk baru ini merupakan sebagian dari sekitar 1 juta pemudik yang memakai sepeda motor yang kembali ke kota Surabaya. Kepala Sub Dinas Perhubungan Darat Dinas Perhubungan Jawa Timur, Edy P. Sagala mengatakan, menjelang dan selama Lebaran tahun ini, diperkirakan ada 700 ribu pemudik yang meninggalkan kota Surabaya dengan sepeda motor.
Jumlah tersebut, menurut Kresnayana, akan bertambah menjadi sekitar 900 ribu sampai 1 juta sepeda motor yang akan kembali ke kota Surabaya. "Tambahan 300 ribu kendaraan sepeda motor itu adalah para keluarga pemudik yang akan mencari kerja di Surabaya," kata Kresnayana.
Banyaknya pemudik yang kembali dengan sepeda motor itu akibat booming penjualan sepeda motor di Jawa Timur. Menurut Kresnayana, para pendatang yang kembali ke kota Surabaya kebanyakan lulusan Sekolah Lanjutam Tingkat Atas yang akan bekerja di sektor informal seperti penjaga toko dan tukang batu atau pembantu tukang batu. Saat ini upah tukang batu sebesar Rp 30 ribu atau lebih tinggi di atas upah minimum regional buruh yang hanya Rp 550 ribu per bulan. Dengan upah tersebut, apalagi saat ini industri properti lagi bergairah, akan menjadi daya tarik bagi para pendatang.
Kedatangan penduduk baru ini, akan menjadikan kota Surabaya semakin sesak. Menurut Kresanayana, dengan jumlah penduduk sekitar 3 juta orang, kota Surabaya sudah jenuh penduduk. "Jika lebih dari juta, maka penduduk kota Surabaya tidak akan terlayani kesehatan dan perumahannya," kata Direktur Encity tersebut. Akibat kepadatan penduduk dan minimnya fasilitas umum, saat ini kota Surabaya semakin kumuh.
Berbagai masalah sosial pun menjadi bebam kota Surabaya akibat terlalu padat penduduk, kata Kresnayana. Misalnya, tingginya angka pelacuran, kriminalitas, kesulitan air bersih, sampai kesulitan mencari lahan pemakaman. Dia menyebut tiga kecamatan di kota Surabaya yang terlalu padat, yaitu Kecamatan Sawahan, Tambaksari, dan Semampir yang penduduknya mencapai 22 ribu per 1 kilometer persegi. Idealnya, kepadatan tiap kecamatan di kota Surabaya maksimal 8.000 penduduk tiap satu kilometer persegi.
Untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk itu, Kresnayana menyarankan agar Surabaya diarahkan menjadi kota jasa pelayanan (service city). Untuk itu, kawasan yang selama ini menjadi pusat industri berat seperti yang dikelola PT SIER di Rungkut, harus diubah menjadi kawasan industri teknologi tinggi.
Kepala Informasi dan Komunikasi Pemerintah Kota Surabaya, Yuli Subiyanto, membenarkan, saat ini kota Surabaya sudah jenuh dengan pendatang baru. Dengan penduduk sekitar 2,7 juta orang pada malam hari dan 3 juta orang pada siang hari, Pemerintah Kota Surabaya sudah kesulitan memberikan fasilitas yang memadai bagi penduduknya.
Pemerintah Kota Surabaya, kata dia, tidak bisa melarang warga lain mencari kerja di ibukota Jawa Timur ini. Namun, Wali Kota Surabaya Bambang DH mengimbau agar warga Surabaya yang mudik ke kampung halamannya tidak membawa tetangga dan keluarganya jika tidak mempunyai pekerjaan yang jelas. Pemerintah Kota Surabaya berusaha menekan laju urbanisasi dengan tidak melayani permintaan kartu tanda penduduk bagi warga baru jika mereka tidak mempunyai pekerjaan jelas. (Zed Abidien)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|