Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ribuan Kendaaran Mengular 20 Kilometer di Pantura
Sabtu, 13 November 2004 | 15:11 WIB

TEMPO Interaktif, Pemalang/b>:Hingga hari ini jalur Pantai Utara (Pantura) masih terseok-seok. Kemacetan terjadi di mana-mana. Wartawan Tempo, Wahyu Muryadi, yang melewati jalur ini menuturkan bahwa diperlukan waktu 12 jam perjalanan dari Jakarta menuju Pemalang, padahal biasanya cuma lima jam.


Biang kemacetan adalah pasar tumpah yang terjadi di sejumlah pasar di jalur ini seperti Pasar Ciasem (Subang), Pasar Loh Bener (Indramayu), Pasar Celeng (Indramayu), Pasar Losari (Indramayu) dan setiap pasar di beberapa kota dari Tegal hingga Brebes. Kemacetan itu sduah terjadi sejak Jumat kemarin. Puncak kemacetan terjadi di lingkar luar Pemalang menuju Semarang. Di situ ribuan kendaran mengular sejauh 20 kilometer. Penyebabnya karena adanya penyempitan jalur dari 4 lajur ke satu jalur.

Pemudik dianjurkan agar melewati jalan desa yang membelah jalan lingkar luar, menyusuri rel kereta api dan keluar persis di tengah kota Pemalang. Selanjutnya, pemudik dapat mengikuti arahan polisi untuk melalui jalur alternatif menuju Semarang. Jika Anda ngotot lewat jalur lingkar luar itu, maka dapat dipastikan Anda akan berlebaran di jalan.

Pedagang asongan juga turut menghiasi kemacetan lalu lintas sepanjang pantura ini. Banyak sekali pedagang asongan yang memperoleh rejeki di jalan yang macet dan titik-titik tempat istirahat pemudik, seperti pompa bensin. Mereka rata-rata menjual kipas tangan, makanan dan minuman. "Jalan macet seperti ini, bisa-bisa lebaran di jalan. Jadi lebih baik beli makanan saja dulu," bujuk salah seorang pedagang kepaa beberapa pemudik.


Di beberapa musholla di tempat-tempat istirahat banyak yang kekurangan air, sehingga banyak yang harus berwudhu dengan air mineral. Penyebabnya ialah pompa air yang tidak menyala sama sekali.


Jalur juga bertambah kacau karena banyak pemudik yang menggunakan sepeda motor mengemudi dengan sembarangan. Untuk itu, banyak petugas yang diturunkan untuk membantu. Beberapa tiang pembatas dari bambu dan semen yang dibuat petugas juga banyak yang diserobot pengendara mobil yang tidak sabar.


Wahyu Muryadi –Tempo



INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Wapres: Mudik Lebaran Lebih Lancar
Poso Siaga Satu
Hingga H-2, Sudah 55 Kecelakaan Lalu Lintas
Puncak Arus Mudik Kereta Api H-2
Tingkat Kriminalitas Di Stasiun Gambir Menurun
Pencari Zakat Hiasi Jalan-jalan Jakarta
Takbiran Malam Ini Dipusatkan di Monumen Nasional
Polda Metro Jaya Kerahkan 1600 Personel untuk Amankan Takbiran
Polisi Periksa Urine Sopir di Terminal Pulo Gadung
Penumpang Terminal Pulo Gadung Mengalami Penurunan
> selengkapnya...


Referensi

Mudik Bareng dengan Buruh Bangunan

Website

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni)
PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP)
PT Garuda Indonesia


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data