|
Jawa Tengah
Pengakuan Para Tersangka Mutilasi Mencla Mencle
Selasa, 14 September 2004 | 19:04 WIB
TEMPO Interaktif, Banyumas: Hingga hari ini, kepolisian Banyumas masih mengembangkan kemungkinan adanay motif lain yang melatari pembunuhan mutilasi yang dilakukan bapak dan tiga anak kandung warga Kelurahan Mersi, Kecamatan Purwokerto Timur, Banyumas. Polisi menduga ada motif lain selain dendam karena sering dimintai duit seperti pengakuan para tersangka saat ini.
Kapolres Banyumas Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP)
Erwin Triwanto, mengemukakan dugaan itu muncul karena selama dalam pemeriksaan, empat tersangka yakni Soni Darsono, 63 tahun, Agus Santoso, 28 tahun, Ruslan Abdul Gani, 22 tahun dan Mukti wibowo, 16 tahun. Kesemuanya memberikan keterangan berubah-ubah. "Beberapa diantaranya tidak sinkron satu sama lain," kata Kapolres, Selasa (14/9).
Kapolres mencontohkan keterangan awal para tersangka
yang menyebut pembunuhan itu dilakukan spontan karena
Heriyadi alias Heri Best, 47 tahun, si korban, meminta
uang dengan paksa hingga memukul salah satu tersangka
yakni Agus Santoso. Lalu Abdul Gani mengaku tidak
terima melihat kakaknya dipukul sehingga lantas
mengambil batu dan memukul wajah Heri Best hingga
roboh. Setelah itu Gani yang disebut-sebut
memotong-motong tubuh Heri Best hingga menjadi tujuh
bagian, juga memotong kemaluan dan mengambil jantung
korban.
Namun setelah satu minggu ditahan, Soni mengungkapkan
pengakuan baru dengan menyatakan pembunuhan itu telah direncanakan seminggu sebelumnya. Keterangan Soni, dirinya menelpon Heri Best agar datang ke rumahnya pada malam pembunuhan (24/8).
Korban dan keluarga tersangka lantas menggelar jamuan minuman keras. Tanpa sepengetahuan Heri, Soni memasukkan kecubung yang telah diblender oleh Soni sebelum kedatangan Heri. Campuran kecubung itulah yang membuat korban yang berbadan tinggi besar dan dikenal jago berkelahi itu terkapar tidak sadarkan diri. Setelah itu mutilasi dilakukan. Keterangan ini sinkron dengan saksi Sendi, 24 tahun, tetangga para pelaku yang diancam dan
dipaksa melihat pemotongan tubuh di salah satu kamar
rumah paar tersangka.
Keterangan yang tidak sinkron lainnya, awalnya keempat
orang itu mengaku, yang melakukan pemotongan adalah
Abdul Gani dan menambahkan kisah bahwa Gani memiliki
kelainan jiwa sejak kecil. Ternyata hasil pemeriksaan
tim dokter dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Banyumas menyimpulkan keempatnya waras. Satu-satunya
penyakit Abdul Gani adalah epilepsi. Belakangan Mukti Wibowo mengaku, dirinya turut melakukan pemotongan tubuh korban dan juga meminum darah korban bersama kakaknya, Abdul Gani.
Yang paling sering mengubah pengakuan adalah Mukti
Wibowo, tersangka paling muda dalam keluarga ini. "Dia paling sering ngomong dan sering tidak sinkron dengan yang lain," kata Kapolres.
Ayah ketiga tersangka yakni Soni Darsono juga pernah menyatakan, proses pemeriksaan menjadi ruwet karena dirinya dan dua anak lainnya harus manut skenario yang disusun Mukti Wibowo. "Mukti Wibowo memang terlihat paling berkuasa diantara keempatnya," ujar Kapolres.
Kapolres menyatakan, polisi sedang mengorek keterangan
para tersangka yang hingga saat ini mengaku melakukan
pembunuhan sadis hanya karena sering diperas dengan
uang puluhan ribu rupiah saja. "Kami punya dugaan
tetapi masih dalam penyelidikan. Kami sedang mencari
kemungkinan ke arah sana," kata Kapolres.
Ari Aji HS - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|