Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jawa Tengah

Kapal Tanker Bocor, Minyak Mentah Genangi Perairan Cilacap
Jum'at, 10 September 2004 | 16:57 WIB

TEMPO Interaktif, Cilacap: Ribuan liter minyak mentah (crude) jenis Seria yang diangkut kapal tanker Lucky Lady berbendera Malta tumpah di perairan dekat pantai Teluk Penyu, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat pagi(10/9). Tumpahan minyak menyebar sepanjang sekitar 3 kilometer, membuat udara sekitar laut beradius sekitar dua kilometer beraroma minyak menyengat.

Menurut hasil penyelidikan awal, minyak itu tumpah setelah lambung kanan kapal berbobot mati 85 ribu ton itu robek akibat menabrak karang tumbuh, sekitar 6 mil
menjelang tempat bertambat di pelabuhan Cilacap.

Data Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
Negara (Pertamina) Unit Pengolahan (UP) IV Cilacap
mengungkap, ketika kebocoran berlangsung, kapal
bernahkoda P Fragkuo itu sedang mengangkut 608 mega
barel minyak mentah dari Brunai Shell Petroleum
Company Sendirian, Berhad, Brunai Darussalam. Muatan
itu ditempatkan dalam 15 kompartemen berkapasitas 5
ribu liter tiap kompartemen. Pada benturan badan kapal
dengan batu karang itu, salah satu kompartemen robek
sekitar 1,5 meter dan isinya bocor ke laut.

Kebocoran terjadi sejak pukul 05.30 WIB, Jumat pagi
(10/9). Hingga siang, luasan genangan makin luas
hingga mencemari pantai di sekitar Teluk Penyu.

Bahan baku minyak jenis Naptha itu sedianya akan diolah oleh UP IV.

Menurut Kepala Humas UP IV M Husni Banser, minyak mentah itu memang pesanan Pertamina namun secara operasional pengangkutan minyak dijalankan PT Tongkang Pertamina, salah satu anak perusahaan Pertamina. "Maka yang bertanggungjawab dalam kasus ini, PT Tongkang," katanya. Dalam hal ini, Pertamina lebih berperan menangani
pencemaran yang semakin meluas di perairan Cilacap.

Manager PT Tongkang Pertamina Cabang Cilacap Sunarno
menyatakan, pihaknya belum menghitung pasti volume
minyak mentah yang bocor ke laut, termasuk biaya yang harus dibayarkan pada Pertamina sebagai ganti Opportunity Cost atau kesempatan mengolah. "Kami masih menunggu proses penyedotan. Dari sana nanti akan ketahuan berapa volume minyak mentah yang tumpah," ujarnya.

Sunarno menjelaskan, kapal itu memasuki perairan Cilacap Kamis (9/9) dan sesuai prosedur, menunggu datangnya kapal pandu untuk masuk pelabuhan. Namun kapal pandu terlambat datang sehingga kapten kapal memutuskan memasuki alur pelabuhan. "Saat itulah terkena karang tumbuh. Karang itu tidak ada dalam peta," katanya.

Hingga siang ini, PT Tongkang belum bisa memperkirakan total kerugian.

Husni Banser menjelaskan, beberapa langkah penanganan
yang dilakukan Pertamina adalah mengerahkan armada
Tugboat untuk melokalisasi luasan laut yang tertumpah
minyak. Kapal-kapal itu lalu memasang oil boom dan
melakukan penyemprotan oil dispersant atau sejenis minyak yang berfungsi menetralisir minyak yang tumpah. Selain itu Pertamina juga menyedot cairan minyak
yang tumpah masuk kembali ke dalam kompartemen yang
robek.

Mengenai tingkat pencemaran dan kerusakan biota laut
akibat tumpahan minyak ini, Husni Banser menyatakan,
Crude Seria berjenis minyak mentah ringan jadi
diharapkan tidak akan menimbulkan kerusakan biota yang
besar. "Kami belum bisa memperkirakan, tapi kami
yakin tidak akan besar. Dalam dua atau tiga hari kami
akan bisa membersihkannya," kata dia.

Kejadian ini berdampak besar terhadap kehidupan ribuan
nelayan di Cilacap. Ketua II Himpunan Nelayan Seluruh
Indonesia (HNSI) Cilacap Indon Cahyono menyatakan,
diperkirakan 15 ribu nelayan bakal menganggur selama
setahun lebih gara-gara tumpahan minyak ini. "Ini
musibah besar bagi kami. Soalnya banyak ikan akan mati
dan lainnya pergi menghindari perairan Cilacap, paling
tidak untuk 3 tahun," katanya ketika ditemui di
lapangan.

Indon menjelaskan, sekitar 15 ribu nelayan yang
memusatkan kegiatan nelayannya di sekitar Pantai Teluk
Penyu Cilacap itu terancam menganggur karena sebagian
besar adalah nelayan tradisional yang mencari ikan
dengan kapal kecil. "Kapal seperti itu tidak bisa
berlayar jauh. Jika laut sudah tercemari minyak
seperti ini, jelas ikan-ikan semuanya pergi menjauh,"
katanya.

Ketua Solidaritas nelayan Cilacap Rasino menyatakan,
ini adalah musibah kedua bagi ribuan nelayan Cilacap
tahun ini. "Kami baru saja melewati masa paceklik
ikan sejak awal tahun. Sekarang ini dipastikan kami
bakal kena paceklik sekitar 3 tahun," ujarnya.

Rasino menyatakan, baru sekitar satu minggu ini para nelayan mendapatkan banyak ikan. "Kami akan menuntut ganti rugi pada siapapun yang bertanggungjawab dalam musibah ini," tegasnya.

Akibat kejadian itu, air laut sepanjang pantai Cilacap
hingga 3 mil ke arah laut menjadi berwarna kuning
kemerahan. Bau minyak menyengat menebar ke kawasan
pemukiman penduduk sepanjang pantai hingga radius 2-3
kilometer.

Warga nelayan membawa puluhan drum ember, galon dan sebagainya untuk menampung air laut yang telah berubah menjadi minyak di sepanjang pantai Teluk Penyu. Untuk mempercepat pemulihan kondisi laut, Pertamina bersedia membayar Rp 15 ribu untuk satu drum atau galon berisi sekitar 180 liter air laut tercemar.

Tahun 2001, perairan ini juga tercemar tumpahan minyak
akibat Kapal King Fisher, juga berbendera Malta,
menabrak karang. Saat itu sekitar 25 kilometer persegi
perariran Cilacap tercemar muatan kapal King Fisher.
Kejadian itu menyebabkan nelayan Cilacap harus
menerima kenyataan pahit karena ikan-ikan mati dan
meninggalkan perairan tempat nelayan Cilacap menebar
jaring tangkapan.

Ari Aji HS - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

KPPU: Ada Indikasi Pelanggaran UU Dalam Penjualan Tanker Pertamina
Kuburan Korban Buyat akan Dibongkar
Laksamana: SDM Indonesia Mampu Kelola Cepu
Pertamina Saving Invesment Kemungkinan Ditutup
Pertamina Kebocoran Dana Sekitar Rp 200 Miliar
David Sompie Diperiksa Pekan Depan
Menteri Lingkungan Minta Semua Pihak Bersabar
Polisi Pertimbangkan Permohonan Penundaan Pemeriksaan PT Newmont
Tersangka Newmont Batal Diperiksa
Pertamina Minta Impor Minyak dari Arab Saudi Ditunda
> selengkapnya...


Referensi

PP RI No. 8 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas PP No. 1 Tahun 1998 Tentang Pemeriksaan Kecelakaan Kapal
UU RI No. 22 Tahun 2001 Tentang Migas
Inpres RI No. 3 Tahun 2000 Tentang Koordinasi Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Izin
> selengkapnya...

Website

PT Freeport Indonesia
Newmont Indonesia
Berita Bumi
Situs INFORM
Lembaga Informasi Negara


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Gisele Bundchen Tolak Menikah
Anggota DPR akan Laporkan Gayus Lumbuun
Bilic Anggap Inggris Tim Kacangan
Taksi Bandara Minangkabau Mogok
Gelandangan dan Pengemis Surabaya Dikarantina

<< September,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data