Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Sultan Menerima Solidaritas Masyarakat Maluku
Selasa, 04 Mei 2004 | 23:33 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Empat belas orang mewakili kelompok Solidaritas Masyarakat Maluku menghadap Sultan Hamengku Buwono X di Gedung Wilis, Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (4/5) siang. Kelompok ini meminta perlindungan Sultan karena Sultan sebagai simbol kultural masyarakat Maluku atau Otoritas Ukulatu.

Farsijana A. Risakotta, koordinator zona Maluku untuk Indonesian Conflict Study Network mengatakan, dalam pertemuan itu Sultan memberikan masukan tentang penanganan konflik melalui transformasi budaya. Transformasi budaya bukan hanya tanggungjawab pemerintah tetapi juga masyarakat.

"Pak Sri Sultan menjelaskan, proses ini harus dilakukan secara sederhana dengan mengikutsertakan masyarakat. Sultan akan melibatkan diri dalam proses dengan memberi masukan-masukan tentang bagaimana mengangkat kekuatan dari budaya terutama kebijakan lokal yang bisa dimatangkan dan diberdayakan dalam masyarakat untuk menguasai masalah-masalah yang sedang terjadi di Maluku," ujar Risakotta.

"Saya berharap, sebagai kekuatan cultural, Sultan bisa menjelaskan kepada masyarakat Maluku tentang kultur nasionalisme di dalam tatanan yang lebih tepat," ujar Risakotta.

Menurut Sultan, konflik yang ada di Maluku sekarang ini bersifat tidak massal seperti 1999 lalu. Sekarang yang menjadi persoalan, bagaimana mempersatukan lagi perbedaan agama menjadi penopang rasa damainya masyarakat Maluku. Atau dari persoalan yang sudah ada dan bisa diantisipasi, diberi isu-isu baru supaya terjadi transformasi budaya bagi masyarakat untuk menopang rasa damai mereka.

Lebih lanjut dikatakan Sultan, perlu diidentifikasi kira-kira kekuatan apa yang bisa menjadi bentuk kearifan dan kekuatan lokal. Pela Gandong misalnya, mungkin perlu diberi roh baru sesuai dengan jamannya. Siapa tahu itu bisa menjadi kekuatan baru bagi masyarakat karena masyarakat sendiri sudah berubah. Artinya, masyarakat sudah terjadi regenerasi sehingga pemahaman Pela Gandong bagi anak muda berbeda kadarnya dengan orang tua.

Menurut Sultan, siapapun bisa membuat kerusuhan. Tapi kalau daya stamina masyarakat kuat, pembuat kerusuhan belum tentu berhasil. Tapi kalau daya tahan masyarakat tidak kuat karena sudah terjadi perubahan budaya, kadar pemahaman budaya lokalnya sudah turun. Aspek-aspek itu yang dapat memperlemah pertahanan.

Sejauh ini pemerintah memang tugasnya membangun stabilitas masyarakat. "Tetapi kalau saya, lebih cenderung mengenalkan masyarakat pada transformasi budaya. Dengan sistem informasi seperti sekarang ini, bagi masyarakat yang punya keterbatasan wacana masalah Maluku ini membingungkan. Tidak hanya Maluku, masyarakat Indonesia yang pendidikannya kurang juga bingung kok. Budaya baru belum terbentuk, budaya lama sudah ditinggalkan. Kita mau ke arah budaya baru tapi belum ada jembatan yang bisa diciptakan dan tidak ada kekuatan yang bisa menghantarkan. Bagaimana mungkin semua anak bangsa ini bisa masuk ke situ," jelas Sultan.

Karena itu, lanjut Sultan, kearifan lokal itu bisa menjembatani proses dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial. Contohnya, masyarakat agraris. Sultan menilai Maluku sama dengan di Yogya. Yang namanya harmoni atau keselarasan itu adalah tidak menimbulkan gejolak. Sedang untuk masyarakat industrial, siapa yang paling kualitatif punya peluang lebih besar daripada yang tidak. Berarti di situ dimungkinkan persaingan. Tetapi bagi masyarakat agraris, persaingan itu menimbulkan disharmoni. Berarti harmoni itu harus diberi roh baru kalau mau ke arah modernisasi.

"Lepas dari permainan apapun, informasi apapun yang menimbulkan terpecah belahnya masyarakat, kalau daya tahan masyarakat itu sendiri ada, akan berpikir dua kali. Tapi daya tahan masyarakat itu sendiri kurang kuat karena kita sudah masuk di dalam perubahan tetapi tradisi itu belum terbentuk. Kalau kita tidak melakukan rekayasa budaya dari masyarakat agraris ke masyarakat modern, jelas sulit. Berarti sekarang harus ada variasi, kreatifitas dan strategi," jelas Sultan.

LN Idayanie - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Mensos Berkunjung ke Ambon
Yusril: Deportasi Manuputty Wewenang Amerika
PNS Terlibat RMS Akan Dipecat
Kapolda Maluku Dicopot
Mahasiswa Unhalu Gelar Aksi Sweeping
Pegawai Mulai Berkantor di Ambon
Ambon Semakin Aman
Polri Tambah Satu SSK Brimob di Ambon
Ambon Mulai Tenang
Polisi Geledah Rumah Alex Manuputty
> selengkapnya...


Referensi

Kronologi Konflik di Maluku
Komisi Kebenaran $ Rekonsiliasi
Komnas HAM Soal Kerusuhan Maluku
Kepres RI No.38 Thn. 2002 Tentang Pembentukan Tim Penyelidik Independen Nasional Untuk Konflik Maluku

Website

KPP Maluku Komnas HAM
Pemerintah Provinsi Maluku
Posko Malra
Maluku Media Centre (MMC)


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [0] komentar


Berita Terakhir

Pemerintah Akan Tutupi Dana Pesta Olahraga Asia
Paris Hilton Batalkan Penayangan Film
Dua Calon Independen Ikut Pemilihan Wali Kota Padang
Skandal Mariyuana, Ketua Asosiasi Sumo Jepang Mengundurkan Diri
Gisele Bundchen Tolak Menikah

<< May,2004>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data