Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jawa Tengah

Ngruki Kibarkan Bendera Setengah Tiang
Jum'at, 30 April 2004 | 11:58 WIB

TEMPO Interaktif, Solo:Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo terpaksa menelan kekecewaannya setelah polisi kembali menahan Abu Bakar Ba'asyir. Padahal mereka telah melakukan berbagai persiapan, termasuk spanduk dan bersih-bersih lingkungan pondok untuk menyambut bebasnya Amir Majelis Mujahidin Indonesia ini (MMI) Jumat (30/4).

Sebagai bentuk ungkapan kekecewaannya, pihak pondok memasang bendera merah putih setengah tiang. Sejumlah pendukung Ba'asyir juga melampiaskan kekecewaannya dengan melakukan orasi mengecam kepolisian.

"Jelas kami kecewa dengan sikap polisi yang diskriminatif. Kami akan melakukan pembelaan dan mempercayakan semuanya kepada tim pembela hukum," ujar Irsyad Fikri, salah seorang ustadz yang sebenarnya bertugas untuk menyambut kedatangan Ba'asyir.

Kekecewaan juga diungkapkan oleh seorang santri, Rais Fadilah (18). Ia tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya ketika Tempo News Room datang ke pondok dan memberitahukan kalau Ba'asyir tidak jadi bebas. Menurut Fadilah, polisi tidak bertindak fair dan hanya mementingkan pesanan Amerika. Meski demikian, dia tidak tahu akan berbuat apa. "Kalau dibolehkan, kami akan demo," katanya.

Persiapan penyambutan kebebasan Ba'asyir sebenarnya sudah terlihat sejak Kamis (29/4). Selain mengirim ratusan massa untuk menjemput, para santri dan ustad di Ngruki juga berencana untuk membuat semacam 'upacara' penyambutan. Empat spanduk besar dipasang di berbagai ruas jalan masuk pondok, di antaranya bertuliskan 'Welcome Home Ustd Abu Bakar Baasyir. We Love You', dipasang tepat di atas pintu gerbang pondok. Spanduk lain berbunyi 'Welcome Home Ustd Abu Bakar Baasyir. You Always in My Hearth".

Saat rekan-rekannya yang berada di Salemba menunggu detik-detik kebebasan Ba'asyir, para santri di Ngruki melakukan aksi bersih-bersih lingkungan pondok. Puluhan santri mengangkuti benda-benda yang dirasa mengganggu pemandangan mata di depan masjid pondok. Salah satu keluarga Ba'asyir, Umar Baraja, bahkan mengaku pihaknya sebenarnya juga akan membuat persiapan penyambutan dengan akan memasak masakan nasi kebuli, masakan kesukaan Ba'asyir. "Tetapi batal dan umi malah ke Jakarta," ujar Baraja.

Hari Jumat, yang merupakan hari libur di Ngruki, biasanya digunakan para santri untuk keluar pondok. Tetapi, sejak pagi mereka kelihatannya memilih tetap berada di dalam pondok. Sebagian dari para santri tampak duduk-duduk bergerombol di beberapa pojok pesantren. Namun dari luar terlihat mereka banyak tertunduk dan termenung, tidak banyak bercakap dengan teman-teman di sebelahnya. Pintu gerbang pesantren yang terbuat dari besi ditutup rapat oleh santri yang sedang bertugas jaga. Hanya dibuka sesekali kalau ada santri, ustadz, atau pengurus pesantren yang hendak keluar maupun memasuki pesantren. Setelah itu pintu kembali ditutup.

"Ustadz Wahyuddin meminta agar para santri tidak usah keluar pondok hari ini, khawatir mereka tidak dapat mengendalikan emosi dan kekecewaannya," kata Irsyad Fikri.

Sementara itu, sejumlah pendukung Ba'asyir dengan menggunakan bendera Gerakan Pemuda Islam terlihat mengungkapkan kekecewaan atas tindakan kepolisian dengan melakukan orasi di tengah jalan. Massa yang jumlahnya tidak lebih dari 10 orang itu menggunakan mobil jeep terbuka dan berjalan kaki menentang arus lalu lintas Jalan Slamet Riyadi, yang merupakan jalan utama di Solo. Nampak di dalam jeep aktivis MMI Solo, Ahmad Sigit. Dengan menggunakan megaphone, salah seorang diantara mereka berteriak-teriak memprotes polisi.

Sementara seorang yang berjalan di depan jeep dengan menggunakan tsabo penutup kepala menyambet-nyambetkan tongkat yang terpasang kain hitam bertuliskan huruf Arab sehingga nampak aksi yang cukup provokatif dan memaksa pengguna jalan lain minggir.

Imron Rosyid - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
 
Berita Terkait

Ba’asyir Minta Maaf Atas Bentrokan
Abu Bakar Ba'asyir Ditahan di Mabes Polri
Situasi Sekitar Rutan Salemba Kembali Normal
Massa Pendukung Ba'asyir Bentrok dengan Polisi
Ba'asyir Akan Ditahan di Mabes Polri
500-an Massa Jemput Ba'asyir
Inilah Pertanyaan untuk Ba'asyir
Ba'asyir Tidak Tandatangani BAP
> selengkapnya...


Referensi

Paketan Bom di Indonesia
Teror Bom di Indonesia (Beberapa di Luar Negeri) dari Waktu ke Waktu
Jamaah Islamiyah
Hambali
Hambali
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2002 (kepada Kepala Badan Intelijen Negara sehubungan dengan terorisme)
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2002 (kepada Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan sehubungan dengan terorisme)
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERPU 1/2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME, MENJADI UNDANG-UNDANG

Website

Departemen Luar Negeri


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Pandangan Pertama Chrome
Ibu-ibu Unjuk Rasa di Kantor MA
Ekspesi Marwoto Ditolak
Safari Ramadan Condoleezza Rice
Dari Periset Jadi Pebisnis

<< April,2004>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data