Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Yogyakarta

BEM Se-Yogya Tolak Mega, Akbar, Wiranto, dan Tutut
05 Maret 2004

TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Sedikitnya 100 orang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Yogyakarta menggelar aksi siaga bangkitnya Orde Baru, Jumat (5/3). Aliansi dari sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Yogyakarta menyatakan Akbar Tandjung, Megawati, Wiranto, Siti Hardiyati Rukmana adalah representasi kekuatan bakal bangkitnya Orde Baru. Para mahasiswa menyatakan jika pasca pemilu nanti Indonesia dipimpin oleh orang-orang tersebut, maka masa depan bangsa akan semakin suram.

Aliansi ini terdiri dari BEM dari Universitas Gadjah Mada (UGM), BEM Universitas Ahmad Dahlan (UAD), BEM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), BEM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) semula melakukan aksi di Boulevard UGM. Selanjutnya menuju perempatan Tugu dan aksi berakhir di Perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta.

Dalam aksinya, mereka juga membawa spanduk dan poster. Di antaranya berbunyi "Awas Bahaya Orde Baru Memasuki Negara", "Akbar-Mega-Tutut-Wiranto Jadi Presiden, Kiamat Dunia", "Awas Bahaya Kolor Kuning Golkar", dan "Orde Baru Penghisap Rakyat."

Dalam orasinya, para BEM dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta itu mengingatkan agar masyarakat tidak mudah ditipu oleh janji-janji para politisi. Menurut mereka, tanda-tanda bakal bangkitnya Orde Baru sudah sangat kelihatan. Orde Baru yang sebenarnya sudah tumbang, kata mereka, berusaha berganti baju dan kini sudah mulai memasuki ke berbagai wilayah.

"Kepemimpinan Megawati selama ini, telah memberi lahan subur bangkitnya kembali Orde Baru. Penegakan hukum yang amburadul, semakin meluasnya korupsi, kolusi dan nepotisme adalah ciri orde baru yang kini semakin tumbuh subur," kata Deni, koordinator aksi.

Lahirnya sejumlah partai politik yang sebenarnya adalah varian dari kekuatan Orde Baru, kata dia, harus diwaspadai karena pada saatnya bisa menjadi sebuah kekuatan yang besar. Lahirnya Partai Karya Peduli Bangsa yang memunculkan Siti Hardiyati Rukmana sebagai calon presiden dan bebasnya Akbar Tandjung dari jerat hukum, kata dia, adalah bukti-bukti yang semakin menguatkan bangkitnya kekuatan kroni Soeharto.

Syaiful Amin - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

Pengawasan Panwaslu Jateng Dinilai Mandul
KPU Keluarkan Rp 22 M untuk Distribusi Surat Suara
Menteri Aparatur Negara Akan Tanyai Hendropriyono
Dua Caleg Divonis Penjara Tiga Bulan
Atribut Militer Dalam Kampanye Akan Disita

 
Berita jawamadura Lainnya

Umat Islam Solo Demo Kasus Ambon
(Selasa, 27/04/2004 | 16:34 WIB)
Ketua DPC PKS Tewas Tertembak di Ambon
(Senin, 26/04/2004 | 20:10 WIB)
Ribuan Karyawan Wastra Indah Berdemo
(Senin, 26/04/2004 | 18:37 WIB)
Ketua KPU Jember Diadili
(Senin, 26/04/2004 | 17:20 WIB)
Hidayat: PKS Tidak Akan Masuk Kabinet
(Senin, 26/04/2004 | 14:43 WIB)
Puluhan Hektare Sawah di Bojong Genteng Terendam Banjir
(Minggu, 25/04/2004 | 19:12 WIB)
Texmaco Tidak Bayar Gaji Karyawan
(Minggu, 25/04/2004 | 15:55 WIB)
Kidang Pananjung Rawan Longsor Susulan
(Jum'at, 23/04/2004 | 18:17 WIB)
Jalur Selatan Cianjur Lumpuh Total Akibat Longsor
(Jum'at, 23/04/2004 | 17:43 WIB)
Mabes Polri Tetapkan 8 TO Baru Di Poso
(Jum'at, 23/04/2004 | 17:21 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data