|
Jawa Tengah
Pengusaha Cor Logam Batur Terancam Bangkrut
16 Pebruari 2004
TEMPO Interaktif, Klaten:Sentra industri cor logam di Batur, Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terancam bangkrut jika dalam satu-dua bulan ini persedian bahan baku tetap sulit didapatkan.
Sudah empat bulan ini sebanyak 350 pengusaha cor logam asal Batur kesulitan mendapatkan bahan baku.
Selain kesulitan bahan baku besi cor (skrep), kondisi itu juga diperparah dengan tidak tersedianya kokes atau bahan bakar untuk pembakaran besi. Kelangkaan kokes ini juga dirasakan para pengusaha sejak tiga bulan terakhir ini.
Menurut penuturan Anas Yusuf Mahmudi, Ketua Koperasi Batur Jaya Ceper (BJP), persediaan bahan baku besi cor saat ini hanya tinggal 5 persen saja dari kebutuhan total. "Kondisi saat ini merupakan kondisi paling kritis yang dialami selama ini," ungkap Anas, Senin (16/2).
Menurut Anas, pada tahun 1997-1998 lalu, sentra industri cor logam di Batur, Ceper, juga mengalami keterpurukan. Hanya saja kala itu dipengaruhi oleh terpuruknya nilai tukar rupiah. Tapi sekarang hampir semua bahan baku sudah tidak tersedia lagi.
"Saat itu masih ada bahan baku, jadi masih bisa berproduksi, tapi sekarang banyak pengusaha sudah menghentikan produksinya karena kesulitan mendapatkan bahan baku," papar Anas seraya menambahkan pengusaha yang masih berproduksi hanya tinggal 25 persen.
Anas menjelaskan, selain dari dalam negeri, selama ini pasokan bahan baku besi cor maupun kokes juga banyak mengandalkan dari Cina. Namun semenjak empat bulan lalu pasokan skrep dan kokes dari Cina terhambat.
Akibat semakin sulitnya mendapatkan bahan baku skrep dan kokes, lanjut Anas, sudah ada sekitar 300 unit dapur peleburan logam yang berhenti produksi. Hal itu menyebabkan sekitar 600 unit mesin bubut, mesin cor, mesin finishing, serta beberapa mesin produksi lainnya dengan sangat terpaksa tidak dioperasikan.
Kondisi itu juga mengancam keberlangsungan nasib para pekerja di sentra industri logam nasional ini. "Karena sekitar 50 ribu pekerja menggantungkan hidupnya di industri ini. Mereka juga terancam di-PHK," papar Anas yang sudah 12 tahun menekuni industri cor logam ini.
Sentra industri logam yang biasanya riuh rendah dengan bisingnya suara mesin itu saat ini mulai sepi aktivitas pengecoran. "Itu sudah terjadi sejak sekitar 1,5 bulan lalu. Beberapa pengusaha sudah banyak yang meliburkan pekerjanya," tambah Anas yang juga pemilik industri logam bernama CV Bahama Lasaka ini.
Anas menambahkan, jika kelangkaan pasokan bahan baku maupun substitusinya ini terus berlangsung, maka dalam dua sampai empat bulan ke depan para pengusaha cor logam di Batur akan gulung tikar.
Untuk menyelamatkan nasib sentra industri logam di Batur, Ceper, Klaten, lanjut Anas, pihak pengurus Koperasi Batur Jaya Ceper yang selama ini menaungi para pengusaha mengirimkan surat ke empat menteri, yakni Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menristek, Menteri Energi Sumber Daya Mineral serta Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM).
Para pengusaha meminta keterlibatan pemerintah untuk mengatasi kondisi yang dialami saat ini. Salah satu poin yang dituntut para pengusaha adalah agar pemerintah membantu penyediaan bahan baku industri cor logam.
Mereka juga mengeluhkan produksi besi dari pabrik-pabrik di Indonesia yang lebih banyak dilempar ke luar negeri sehingga konsumsi untuk dalam negeri sangat sedikit. "Kami menyadari kalau diekspor harga jualnya memang lebih tinggi, tapi seyogyanya juga diperhitungkan keberlangsungan industri kecil menengah yang ada di dalam negeri," paparnya.
Jika indutsri cor logam di Batur ini sampai bangkrut, kata Anas, maka rentetan akibatnya cukup luas, di antaranya tidak tersedianya suku cadang mesin bagi industri tekstil, pabrik gula, serta matinya usaha informal yang selama ini bergantung pada keberlangsungan industri cor logam Batur ini.
"Karena itu kami sangat mendesak campur tangan pemerintah agar industri ini tidak mati," tambah Anas.
Anas Syahirul - Tempo News Room
|