|
Jawa Timur
Satgas Partai Berikrar Amankan Pemilu
12 Pebruari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta: Perwakilan satuan tugas (satgas) dari 24 partai politik di Jawa Timur membacakan ikrar bersama yang berisi kesepakatan untuk mewujudkan situasi aman selama kampanye dan pemilu. Ikrar itu dibacakan di Hotel Tunjungan, Surabaya, Kamis (12/2) bersamaan dengan acara diskusi dengan tema "Pengamanan yang ideal menuju Pemilu aman dan damai."
Diskusi tersebut dihadiri Kapolda Jatim Inspektur Jenderal Polisi Firman Gani, Ketua KPU Jatim Aribowo, Ketua Panwaslu Jatim Doni Kadnezar, Ketua PWNU Jatim K.H. Ali Maschan Moesa, Ketua PW Muhammadiyah Jatim Fasichul Lisan dan Direktur Pusat Kajian Komunikasi Universitas Airlangga Suko Widodo.
Firman Gani menjelaskan, kehadiran satgas parpol amat dibutuhkan untuk membantu tugas pengamanan polisi selama masa kampanye dan pemilu nanti. Alasannya, jumlah personil kepolisian yang ada kurang memadai. "Untuk tenaga pengamanan di Jatim, jumlah ideal kekuatan pengamanan seharusnya 250 ribu. Tapi karena jumlahnya terbatas, polisi hanya mampu mengerahkan 24 ribu personil. Nah, kekurangannya itu akan diisi aparat TNI, aparat perlindungan masyarakat dan satgas," kata Firman.
Firman mengaku dua hari lalu, dia dipanggil Kapolri Jenderal Polisi Da'i Bachtiar. "Firman, kamu tahu nggak, apa salah satu kunci sukses pemilu nanti," kata Firman menirukan pertanyaan Kapolri. Firman menjawab belum tahu. Kapolri lalu menjelaskan, sukses tidaknya pemilu bergantung pada keamanan dua wilayah, yaitu DKI Jakarta dan Jatim. "Kalau dua daerah itu aman, Insya Allah pemilu bakal lancar dan berhasil," kata Kapolri seperti ditirukan Firman.
Menurut Firman memang ada daerah-daerah khusus di Jatim yang selama kampanye nantu perlu mendapatkan perhatian ekstra, terutama wilayah "tapal kuda". Meski demikian mantan Kapolda Sulawesi Selatan ini menyatakan sampai saat ini belum ada indikasi munculnya kerawanan kamtibmas di tapal kuda atau di daerah yang lain.
Sementara itu, Ali Maschan Moesa menyatakan di tingkat akar rumput masyarakat terkesan dingin-dingin saja dalam menyambut datangnya pemilu ini. Bahkan, kata Ali, mulai ada gejala-gejala sebagian golongan muda nahdliyin akan golput dalam pemilu nanti. "Saya telah menghimbau agar NU tidak golput. Karena dalam Islam telah dijelaskan memilih pemimpin itu suatu keharusan," ujar Ali.
Kukuh S. Wibowo - Tempo News Room
|