|
Jawa Tengah
Pedagang Ayam di Solo Terancam Gulung Tikar
29 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Solo:Mewabahnya virus flu burung membuat ratusan pedagang ayam di Pasar Ayam Semanggi, Solo, terancam gulung tikar karena permintaan ayam dari daerah anjlok hingga 50 persen lebih.
Hampir 90 persen ayam dari Pasar Semanggi yang seharinya mencapai 14 ribu ekor, dipasok ke Pasar Ayam Cakung, Jakarta, untuk kemudian didistribusikan kepada restoran-restoran di Jakarta dan wilayah sekitarnya.
”Sejak ada isu flu burung, permintaan ayam dari Jakarta turun drastis. Biasanya saya kirim 100 kandang per hari, sekarang cuma 50 kandang,” kata Hj Ratmi, seorang pedagang di Pasar Ayam Semanggi, Kamis (29/1).
Menurut para pedagang, sebagian besar ayam-ayam tersebut didatangkan dari wilayah Jawa Timur, seperti Ngawi, Pacitan, Madiun, sementara sisanya didatangkan dari wilayah Sukoharjo, Sragen, dan Karanganyar.
Saat ayam didatangkan tidak ada tanda-tanda terkena penyakit. “Tadi malam menerima kiriman sekitar 5.000 ayam kampung dari daerah Jawa Timur, sepertinya semuanya sehat, tetapi pagi tadi ketika mau dikirim ke Jakarta tahu-tahu mati 50 ekor,” kata Karyono
Para pedagang terpaksa membuang bangkai ayam tersebut ke Sungai Bengawan yang letaknya tidak jauh dari pasar. Menurut Karyono, sejauh ini belum ada kepastian apakah di Solo ada serangan virus flu burung atau tidak, namun yang pasti semua ayam yang mati menunjukkan tanda-tanda kebiru-biruan pada bagian paruh, dada, paha dan ekornya.
“Saya tidak mengerti penyakit apa yang menyerang, proses kematiannya sangat cepat, apa kena flu burung kurang mengerti secara pasti,” kata dia.
Akibatnya, harga ayam kampung pun terus merosot, yang semula laku Rp 12 ribu per ekor, sekarang tinggal Rp 10 ribu per ekor. Demikian pula pada ayam potong yang hanya laku dijual Rp 6.000, padahal sebelumnya laku hingga Rp 8.000 per kilogram. “Itu pun pasarnya sangat sepi,” kata Tukimin.
Pasar Ayam Semanggi adalah salah satu pasar ayam terbesar di Indonesia, khususnya sebagai pemasok ayam kampung atau buras ke kota-kora besar, seperti Jakarta, Bandung, Bogor, dan daerah sekitarnya.
Menurut Lurah Pasar Ayam Semanggi, J. Biharso, sebelum ada wabah penyakit flu burung setiap hari rata-rata sekitar 14 ribu ekor ayam kampung yang dikirim dari pasar ini. “Dengan 34 kios dan 135 pedagang, perputarannya mencapai Rp 1 miliar lebih per hari di pasar ini,” kata Biharso.
Kepala Dinas Pertanian Kota Solo, Sajono Amiradji, mengatakan pihaknya tidak memiliki dana untuk mengatasi penyakit ayam yang sangat mematikan ini. Dana yang diajukan sebesar Rp 115 juta belum mendapat persetujuan dari DPRD. Oleh karena itu, pihaknya belum dapat memastikan jenis penyakitnya.
“Kami sebenarnya berharap bangkai-bangkai ayam yang mati secara mendadak dalam hitungan menit itu bisa diperiksa di laboratorium Yogyakarta, agar diketahui secara pasti penyebabnya,” tandas Sajono.
Imron Rosyid - Tempo News Room
|