Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Purwokerto

HMI MPO Purwokerto Aksi Tolak Pemilu
14 Januari 2004

TEMPO Interaktif, Purwokerto: Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi cabang Purwokerto menggelar aksi menolak Pemilu 2004, Rabu (14/1) malam. Aksi itu dilakukan sekaligus sebagai peringatan Peristiwa 15 Januari 1974 lalu.

Demonstrasi yang diikuti sekitar 60 mahasiswa itu digelar di depan Kampus Universitas Jenderal Soedirman
mulai pukul 20.00 hingga pukul 23.00 WIB. Peserta aksi adalah anggota HMI dari Unsoed dan Universitas
Muhammadiyah Purwokerto.

Mengusung keranda sebagai simbol kematian demokrasi, para demonstran menggelar orasi bergantian di tengah
jalan yang melintasi depan kampus Unsoed. Mereka berseru agar rakyat menolak Pemilu 2004 yang mereka
anggap hanya akan memberi jalan kerusakan lebih parah terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

Agus Miftahudin, koordinator aksi, dalam orasinya menyatakan, Pemilu 2004 jelas-jelas hanya akan memperburuk kehidupan bangsa. "Lihat saja bagaimana selama ini Pemilu hanya menjadi ajang mengeruk keuntungan perut para pejabat dan wakil rakyat," katanya.

Dalam pernyataan sikapnya, mereka menegaskan, Pemilu 2004 harus ditolak karena Partai Golkar, yang jelas-jelas telah membuat negeri ini hancur, masih menjasi salah satu kontestan. Pemilu juga hanya akan menjadi ajang konsolidasi bagi para kekuatan Orde Baru yang selama puluhan tahun menghancurkan sendi-sendi demokrasi. Mereka curiga pemilu hanya akan memberi ruang bagi militer untuk berkuasa.

Aksi di bawah guyuran hujan rintik itu dilakukan di tengah ruas jalan depan Unsoed sehingga menarik perhatian para pemakai jalan di jalur padat kendaraan itu. Selain mengusung keranda mayat, mereka juga mengenakan ikat kepala putih bertuliskan HMI MPO dan masing-masing peserta aksi memegang lilin.

Di sela orasi penuh semangat, beberapa mahasiswi memperagakan happening art berupa drama pendek
menggambarkan sikap otoriter negara terhadap rakyat. Mahasiswa juga membaca puisi bergantian. Mereka mengutuk penguasa yang secara keji membunuh demokrasi dalam peristiwa Malari dan ternyata hal yang sama juga dilakukan penguasa saat ini.

Ari Aji H.S. - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

Panwaslu Sumut Telah Adukan Empat Pelanggaran
HMI Yogya Gelar Aksi Tolak Pemilu 2004
KPU Tetapkan Ukuran Surat Suara
700 Massa PDIP Protes Caleg di Surabaya
Kejiwaan Politisi Hasil Pemilu 2004 Dikhawatirkan Buruk

 
Berita jawamadura Lainnya

Umat Islam Solo Demo Kasus Ambon
(Selasa, 27/04/2004 | 16:34 WIB)
Ketua DPC PKS Tewas Tertembak di Ambon
(Senin, 26/04/2004 | 20:10 WIB)
Ribuan Karyawan Wastra Indah Berdemo
(Senin, 26/04/2004 | 18:37 WIB)
Ketua KPU Jember Diadili
(Senin, 26/04/2004 | 17:20 WIB)
Hidayat: PKS Tidak Akan Masuk Kabinet
(Senin, 26/04/2004 | 14:43 WIB)
Puluhan Hektare Sawah di Bojong Genteng Terendam Banjir
(Minggu, 25/04/2004 | 19:12 WIB)
Texmaco Tidak Bayar Gaji Karyawan
(Minggu, 25/04/2004 | 15:55 WIB)
Kidang Pananjung Rawan Longsor Susulan
(Jum'at, 23/04/2004 | 18:17 WIB)
Jalur Selatan Cianjur Lumpuh Total Akibat Longsor
(Jum'at, 23/04/2004 | 17:43 WIB)
Mabes Polri Tetapkan 8 TO Baru Di Poso
(Jum'at, 23/04/2004 | 17:21 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data