|
Yogyakarta
Rehabilitasi Tamansari Habiskan Dana Rp 4,6 Miliar
12 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Tamansari, salah satu ikon wisata Keraton Yogyakarta, Senin (12/1), mulai direhabilitasi. Biaya rehabilitasi komplek yang dulunya menjadi tempat pemandian puteri keraton itu rencananya menghabiskan dana sekitar Rp 4,6 milyar. Pemugarannya melibatkan Pemerintah Provinsi DIY, Balai Pelestatarian Peninggalan dan Purbakala (BPPP)Yogyakarta, dan masyarakat internasional.
Ketua Unit Keraton BPPP DI Yogyakarta, Eko Hadiyanto menjelaskan, rehabilitasi Tamansari ditargetkan selesai pada Juli 2004 nanti. Kawasan yang dipugar dan direhab, kata dia, mencakup areal seluas 12,6 hektare dari luas semula yang mencapai 25 hektare.
Untuk tahap awal, kata Eko, rehabilitasi dilakukan di komplek Umbul Binangun. Komplek ini, jelasnya, dulunya adalah sebuah kolam yang biasa untuk renang dan pemandian para kerabat keraton. Setelah Umbul Binangun, rehab dilakukan pada tempat-tempat pendukung komplek pemandian tersebut, seperti Gedong Sekawan.
"Untuk merehab Tamansari, kita memang sangat hati-hati karena untuk menampilkan bentuk aslinya. Jadi rehab ini kita tidak akan membangun bangunan baru tetapi bangunan-bangunan yang ada yang dalam kondisi rusak, kita perbaiki seperti semula," kata Eko.
Dikatakan Eko, situs Tamansari kondisinya memang memprihatinkan, baik dari segi bangunan yang banyak rusak juga arealnya yang terus menyempit dan berlaih fungsi menjadi pemukiman penduduk. Situs Tamansari, kata dia, sudah dimasukkan ke dalam 100 situs di dunia yang terancam punah sehingga mendesak untuk direhab.
Untuk melakukan rehabilitasi Tamansari, selain BPPP Yogyakarta dukungan juga datang dari Dinas Pariwisata DIY, Pusat Studi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Yogyakarta Harrietage Society.
Sementara mengenai pendanaan rehab Tamansari, kata Eko, berasal dari tiga sumber utama, yaitu Pemerintah DI Yogyakarta sebesar Rp 900 juta, Colouste Golbenkian Foundation (CGF) Portugal Rp 1,6 milar dan World Monument Savana Found Georgia USA yang bekerjasama dengan Yogyakarta Heritage Society membantu Rp 2,1 miliar.
Syaiful Amin - Tempo News Room
|