TEMPO Interaktif, SOLO: Pemerintah Kota Solo akhirnya memutuskan untuk mengubah nama Stadion Sriwedari menjadi Stadion R Maladi. Pengubahan nama stadion tempat dilangsungkannya Pekan Olah Raga Nasional (PON) I itu sebagai penghormatan atas jasa-jasa mantan Menteri Olah Raga yang sekaligus desaigner stadion tersebut.
Keputusan Pemkot tersebut dituangkan dalam SK Wali Kota No 426.2/98/i/2003 dan perubahan nama akan diresmikan pada 4 Agustus dalam upacara peringatan Serangan Umum 4 hari di Solo.
Menurut Walikota Solo, Slamet Suryanto, pengubahan nama stadion itu atas usulan Paguyuban eks Tentara Pelajar Brigade 17 Surakarta. Semula nama R Maladi akan diabadikan sebagai nama stadion Manahan. Namun dengan alasan kesejarahan, Pemkot akhirnya memutuskan untuk menggantikan nama Stadion Sriwedari.
''Karena keterkaitan sejarah dengan R Maladi, pemberian nama itu untuk Stadion Sriwedari, bukan Stadion Manahan. Kalau Stadion Manahan kan dibangun pada zaman Orde Baru, jadi tidak tepat kalau Manahan yang diberi nama R Maladi. Karena Stadion Manahan itu yang membuat kan Ibu Tien (Siti Hartinah Soeharto, mantan Ibu Negara RI ke-2). Sudah benar kalau yang dipilih Sriwedari,'' ujar Wali Kota.
R Maladi adalah mantan presiden PSSI periode 1950-1959. Bahkan Maladi juga pernah menjadi penjaga gawang PSSI. Di dunia kesenian, Maladi seorang pencipta lagu keroncong yang handal. Pada masa awal kemerdekaan, Maladi memimpin Tentara Pelajar dalam pertempuran melawan Belanda yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum 4 Hari di Solo.
Sejumlah kalangan menyayangkan penggantian nama tersebut. Pemkot dituding latah dengan mengubah-ubah nama sebuah tempat tanpa mempertimbangkan aspek historis dan sosiologis. Menurut seorang anggota DPRD Solo, Ipmawan M Iqbal pihaknya berharap Walikota tidak gegabah dalam mengganti nama tempat yang sudah menjadi bagian dari dunia. "Kalau nama Stadion Sriwedari diganti, maka akan banyak merubah alur sejarah," tukasnya.
Ipmawan menyatakan, pemerintah kota sepertinya tidak mau memperhatikan aspek lokalitas sejarah dan hanya mengikuti trend belaka. Dia menyebut, kasus Stadion Sriwedari ini mirip dengan hilangnya nama-nama kampung di Solo karena pemerintah latah mengganti sesuatu sudah ada dengan hal yang baru hanya dengan alasan penghormatan atas jasa seseorang. "Pemerintah kan senangnya memakai logika kekuasaan, termasuk dalam hal ini," tuturnya.
imron rosyid-Tempo News Room