TEMPO Interaktif, BOYOLALI: Setelah penyakit kulit menyerang sebagian daerah Boyolali, Jawa Tengah, seratus lebih warga penduduk di Kecamatan Teras, Boyolali Kota dan Mojosongso terkena wabah diare menyusul keterbatasan air bersih di daerah itu selama musim kemarau tahun ini.
Sebagian besar penduduk sempat mendapatkan perawatan di RSU Pandanarang Boyolali Direktur RSU Pandanarang, Boyolali, dr Yulianto Prabowo MKes, mengatakan pada bulan Juni 2003 saja tercatat terdapat 123 pasien yang mengalami diare. Pada bulan berikutnya, terhitung sampai tanggal 25 Juli lalu, tercatat 120 pasien yang masuk ke RSU Pandanarang. "Ada yang sampai menjalani perawatan inap sampai 4-5 hari," ujarnya kepada wartawan, kemarin.
Meski jumlah pasien yang terkena diare mencapai ratusan, namun menurut Yulianto sejauh ini belum ada yang meninggal. Kecepatan penderita diare segera memeriksakan ke RS atau Puskesmas membuat penanganan dini bisa segera dilakukan.
Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Kabupaten Boyolali mengatakan, selain di daerahnya terdapat beberapa kecamatan yang merupakan daerah rawan air bersih sehingga warganya rentan dijangkiti bakteri tersebut. selain Mojosongo, Boyolali dan Teras ada beberapa kecamatan yang rawan diare, diantaranya Kecamatan Musuk, Wonosegoro, Juwangi dan Kemusu.
Menurut dia, selain diare, daerah-daerah tersebut juga rentan dengan penyakit kulir menular. Penyakit gatal-gatal sudah dirasakan warga Kecamatan Musuk dan Cepogo, sejak tiga minggu yang lalu. Penyakit tersebut diakui warga setempat karena mereka jarang mandi sejak dua bulan lalu karena terbatasnya air bersih yang mereka miliki.,"Biasanya rasa gatal kalau malam hari," tukas Sutarno (41), seorang penduduk Desa Dragan, Kecamatan Musuk.
Di daerah itu sudah sebulan lebih warganya kesulitan mendapatkan air bersih. Air bersih yang mereka dapat hanya cukup digunakan untuk kebutuhan dapur. Selain itu mereka juga lebih lebih mengutamakan sapi perah yang mejadi hewan piaraannya dari pada kebutuhan mereka sendiri. Kebanyakan mereka hanya mandi sehari satu kali itupun belakangan ini jarang dilakukan.
imron rosyid-Tempo News Room