|
Nusa
Polisi Menghajar Aksi Demostrasi Pedagang Kaki Lima
15 Juli 2003
TEMPO Interaktif, Surabaya: Puluhan anggota polisi menyerang kerumunan massa aksi demontrasi pedagang kaki lima (PKL) Surabaya dalam upaya membubarkan aski di depan gedung pemerintah kota (Pemkot) Surabaya, Selasa (15/7). Penyerangan itu terjadi tanpa peringatan yang mengakibatkan belasan orang demonstran luka-luka terkena pentungan aparat, diantaranya luka dikepala punggung dan tangan. Tujuh orang diantaranya ditangkap. "Tahu-tahu polisi menyerang," kata Teguh, salah seorang demonstran yang berhasil melarikan diri.
Awalnya, belasan PKL Jalan Embong Malang dan Jalan Yos Sudarso yang didukung oleh mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Transformasi (Letram) itu berunjukrasa di depan gedung DPRD Surabaya. Mereka menuntut agar Pemkot menghentikan penggusuran terhadap PKL di Jalan Embong Malang dan Yos Sudarso sebelum adanya kepastian relokasi yang layak.
Pengunjukrasa yang berjumlah sekitar 50 orang itu membawa sejumlah poster dan spanduk, diantaranya berbunyi: "Hentikan obrakan pada PKL","Tolak penggusuran". Selain itu di gedung DPRD di Jalan Yos Sudarso mereka juga melakukan orasi. "PKL bukan anjing. PKL adalah manusia butuh makan, butuh minum dan harus menghidupi keluarganya. Kami butuh kejelasan pemerintah," teriak salah seorang dari mereka dalam orasinya.
Pembubaran paksa itu berawal ketika demonstran melakukan orasi yang menyinggung aparat. Mereka tidak hanya memprotes dan mengecam pemerintah kota, tapi juga menuduh polisi menjadi provokator penggusuran PKL. Orasi itu membuat telinga aparat merah, sejumlah aparat menangkap Derry, salah seorang demonstran yang berorasi. Derry diseret ke dalam halaman Pemkot sambil dipukul ramai-ramai.
Sementara belasan aparat yang sebelumnya hanya diam, juga bergerak mengejar PKL dan mahasiswa yang berusaha lari. beberapa orang yang berhasil ditangkap tidak luput dari hajaran tongkat aparat. Mereka dimasukkan ke dalam halaman Pemkot. Menurut Teguh, tujuh temannya yang ditangkap aparat antara lain Ketua Lekram Mubarok, Derry (koordinator aksi), Joko, Fandi, Krisna, Beni dan Tarzan.
Dalam pernyataan sikapnya Letram, mendesak Pemkot agar menghentikan penggusuran di Jalan embong Malang dan Yos Sudarso dan mengadakan dialog dengan para PKL. Selain itu mereka mengancam melakukan mosi tidak percaya atas pemerintahan Bambang Dwi Hartono dan akan menuntut Pemkot secara hukum atas penutupan Jalan Kembang Jepun jika aspirasi mereka diabaikan.
adi mawardi
|