|
Nusa
Buruh Tekstil Bandung Tolak Impor Pakaian Bekas
05 Mei 2003
TEMPO Interaktif, Bandung:Ratusan buruh tekstil Bandung, Majalaya, Rancaekek, Sumedang, dan Cimahi, Senin (5/5) melakukan unjuk rasa meminta pemerintah menghentikan impor pakaian bekas dan pakaian jadi. Menurut mereka, kebijakan itu menjadi salah satu faktor bangkrutnya industri tekstil yang berimbas pada pemutusan hubungan kerja (PHK). "Permintaan ekspor ke luar negeri sedang lesu, ditambah impor pakaian bekas, sehingga makin mempersempit pasaran tekstil dalam negeri," ujar Babad Warsana, koordinator Komite Solidaritas Pekerja Se-Bandung Raya.
Selain buruh, para pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Kecil dan Koperasi Tekstil dan Produk Tekstil juga ikut unjuk rasa di halaman gedung DPRD Jawa Barat. Babad mengklaim sekitar 100 juta potong pakaian bekas setiap tahunnya dipasarkan para pedagang kakilima di beberapa sentra, seperti Tegalega, Pasar Baru, dan Jalan Cibadak. Babad mengatakan, sekitar 30 ribu buruh tekstil di Bandung dan sekitarnya sudah dipecat sejak tahun lalu karena banyak pabrik gulung tikar dan sebagian mengurangi pekerja akibat merosotnya permintaan pasar. Anggota Dewan Tetty Kadi Bawono mengatakan, DPRD telah mengirim surat kepada Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini Soewandi agar menghentikan pasokan impor barang bekas dan pakaian jadi ke Jawa Barat. (Upiek Supriyatun—Tempo News Room)
|