|
Soal Ancaman Boikot Warga Australia ke Bali
Gubernur Bali: Itu Emosi Sesaat
Selasa, 31 Mei 2005 | 15:16 WIB
TEMPO Interaktif,
Denpasar:Gubernur Bali Dewa Made Beratha menilai reaksi masyarakat Australia yang menyerukan boikot kunjungan ke Bali akibat vonis Schapelle Corby hanyalah emosi sementara. Karena itu, kalangan industri pariwisata Bali tidak usah takut kehilangan pasar Australia.
Meski reaksi masyarakat Australia sangat keras untuk memboikot kunjungan ke Bali, Beratha optimis angka kunjungan wisatawan asal Australia tidak terpengaruh. Kalau pun benar okupansi pelancong asal negeri kanguru itu menurun akibat peristiwa ini, Bali tidak usah khawatir kehilangan pasar pariwisata dari Australia.
“Kita bisa mempromosikan Bali ke negara lain, seperti Jepang dan Eropa,” ujar Beratha saat ditemui seusai menghadiri rapat Paripurna yang membahas Laporan Pertanggungjawaban APBD 2004 bersama DPRD Provinsi Bali di Ruang Rapat Paripurna Gedung Dewan Selasa (31/5).
Hanya saja, ia berharap pemerintah Australia tidak menjadikan reaksi itu sebagai alasan untuk melarang warganya ke Pulau Dewata. Warga Australia sendiri telah menganggap Bali sebagai rumah kedua setelah tanah airnya.
Sementara itu, Gde Nurjaya, Kepala Dinas Pariwisata Bali, menyatakan tidak semestinya persoalan hukum dikaitkan dengan pariwisata. Hukum punya wilayah sendiri demikian juga pariwisata. “Tidak fair kalau pariwisata dihubung-hubungkan dengan (kunjungan) wisatawan. Ini yang kami sampaikan kepada publik Australia,” tegas Nurjaya.
Warga Australia yang berkunjung ke Bali dengan tujuan berwisata terbanyak kedua setelah Jepang. Dari Bulan Januari sampai April 2005 mencapai 78 ribu lebih, meningkat 7 persen dari tahun sebelumnya di periode yang sama.
Sementara itu dari data yang diperoleh dari Kantor Imigrasi Bali, selama bulan Mei sampai dengan tanggal 27 Mei 2005 , ketika vonis Corby dibacakan, warga Asutralia yang datang mencapai 19.510 orang. Rilla Nugraheni
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|