|
Nusa
Kala Nyepi, Bali Gelap Gulita
Jum'at, 11 Maret 2005 | 20:28 WIB
TEMPO Interaktif, Singaraja: Nyepi berarti bulan mati. Sebab pada prinsipnya perayaan Nyepi sebagai peringatan atas
letak dan kedudukan planet kita dalam sistem tata surya. Saat Nyepi terjadi Bulan mati,
sebab kedudukan Bulan, Bumi, dan Matahari dalam posisi lurus. Hal ini dapat diumpamakan
seperti menusuk tiba buah bakso dalam satu tusukan.
Karena itu, Kamis (10/3) malam Bali mengalami puncak kegelapan.
Gelap yang amat pekat. Sebab Bulan mati dalam
posisinya yang seperti itu memang memberikan kegelapan
yang paling gelap di antara Bulan mati-bulan lainnya.
Saat Matahari sore turun ke peraduannya, kegelapan
itu sudah mulai menyergap. Selang beberapa menit
setelah cahaya merah tembaga lenyap di ufuk barat,
pandangan mata sudah semakin terbatas. Karena baik
lampu penerangan rumah maupun penerangan jalan tidak
dinyalakan. Ketika waktu baru menunjukkan pukul 19.30
Wita, kemampuan mata mengawasi lingkungan sudah hampir
tak berfungsi lagi. Syukurlah di atas langit,
bintang-bintang masih berkelap-kelip membiaskan cahaya
minimal.
Ketika Tempo menatap langit Singaraja, kota paling
utara di Bali, tampak jutaan Bintang seperti berebut
mengklaim dirinya paling terang cahanya. Saat itu
kebetulan langit di atas Singaraja dalam keadaan amat
cerah.
Ketika tengah asyik menikmati bintang-gemintang,
tiba-tiba dikejutkan oleh suara pejalan kaki. Siapa
gerangan mereka? Ternyata dua orang pecalang lewat.
Pecalang adalah petugas keamanan milik desa adat di
Bali. Semacam polisinya desa adat. Tampaknya mereka
sedang bertugas mengontrol wilayah. Siapa tahu kalau
ada warga yang menyalakan lampu penerangan. Hal itu
tentu akan diingatkan agar Nyepi berjalan sebagaimana
yang diharapkan.
Tapi kontrol yang dilakukan pecalang bukan di waktu
malam saja. Hal itu dilakukan sejak pagi, siang,
hingga pagi berikutnya. Selain mengawasi kalau-kalau
ada orang yang mencuri-curi kesempatan, kehadiran
pecalang memang sangat diperlukan warga. Jika ada
warga yang sakit misalnya, maka pecalang itulah yang
terlebih dahulu dikontak. Jika si sakit membutuhkan
pertolongan rumah sakit, maka pecalanglah yang akan
mengusahakan kendaraan dan lanjut mengantar si sakit
ke rumah sakit terdekat.
Meskipun segala aktivitas terhenti, namun
pelayanan-pelayanan umum tetap buka. Seperti rumah
sakit, petugas piket di kantor PLN, kantor polisi,
ataupun petugas pemadam kebakaran. Hanya saja para
petugas piket itu, diharuskan tetap di tempat kerjanya
selama 24 jam hingga Sabtu (12/3) pagi. Tempo beberapa
kali menyaksikan kendaraan ambulan lalu lalang.
Mungkin mereka dipanggil untuk menjemput orang sakit
ataupun ibu-ibu hamil yang mendadak hendak melahirkan.
Tempo yang tinggal dekat Rumah Sakit Umum Daerah
Buleleng juga menyaksikan beberapa orang hilir mudik
sambil membawa sesuatu. Boleh jadi mereka kerabat
orang sakit yang terpaksa harus pulang karena ada
sesuatu yang mesti diambil. Hal itu dimungkinkan
sepanjang ada surat keterangan dari pemegang otoritas.
Nyepi Saka 1927 tahun ini sungguh istimewa. Karena
bertepatan dengan hari Jumat, di mana umat muslim
punya kewajiban untuk solat ke masjid. Namun sepanjang
pengamatan Tempo, umat Islam lebih memilih untuk tidak
pergi ke masjid demi menghormati pelaksanaan Nyepi.
Padahal jika mau, umat Islam diizinkan salat Jumat.
Hal itu dimungkinkan karena sebelumnya sudah ada
kesepakatan antara majelis-majelis umat beragama yang
difasilitasi Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali.
Hanya saja jika pergi ke masjid diharuskan jalan kaki
dan mencari masjid terdekat dengan tempat tinggal.
Selain itu, masjid-masjid diminta untuk tidak
menggunakan pengeras suara. Tampaknya kesempatan itu
tidak diambil umat muslim sebagai bukti toleransi
dengan saudaranya umat Hindu. Masjid-masjid pun
mengikuti kesepakatan pimpinan-pimpinan majelis agama.
Tak ada masjid yang mengumandangkan adzan selama
Nyepi.
Memang Nyepi adalah saat sepi dan gelap. Tapi,
ternyata banyak hal yang bisa direnungkan dalam tempo
24 jam tersebut. Seperti halnya bintang-bintang di
langit yang terlihat semalam. Mereka tiba-tiba seperti
lebih terang bercahaya dibanding hari-hari biasanya.
Nyepi sepatutnya dianggap berkah bagi penduduk Bali,
apapun agamanya. Sebab, dengan demikian kita bisa
merenung atau melakukan evaluasi diri atas kelakukan
kita selama ini. Nyepi adalah interupsi sosial yang
tak ternilai harganya.
Made Mustika-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|